Skandal Plagiarisme, Cambridge Tinjau Ulang Posisi Profesor

Prof Arday telah mengumumkan pengunduran dirinya yang berlaku segera, baik dari jabatan universitasnya sebagai profesor sosiologi pendidikan maupun sebagai *fellow* (anggota akademis) di Jesus College.


AS, Suarathailand- Universitas Cambridge pada hari Jumat menyatakan akan meninjau kembali proses perekrutan untuk posisi senior sembari menyelidiki tuduhan plagiarisme terhadap seorang profesor yang mengundurkan diri pekan ini.

Jason Arday, yang sempat menjadi sorotan saat diangkat sebagai profesor kulit hitam termuda di Cambridge pada tahun 2023, mengundurkan diri pada hari Rabu setelah universitas mengumumkan penyelidikan atas tuduhan yang kian berkembang bahwa ia menjiplak sebagian dari tesis doktoralnya.

Dalam pembaruan informasi pada hari Jumat, pihak universitas menyatakan bahwa "terlepas dari" pengunduran diri Arday, mereka akan "terus menyelidiki situasi seputar pengangkatan dan masa jabatannya".

"Temuan-temuan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam peninjauan proses pengangkatan untuk posisi akademis senior," tambah pihak universitas.

Arday telah mengumumkan pengunduran dirinya yang berlaku segera, baik dari jabatan universitasnya sebagai profesor sosiologi pendidikan maupun sebagai *fellow* (anggota akademis) di Jesus College.

Dalam sebuah surat yang diunggah secara daring, ia menyatakan bahwa mundur adalah "satu-satunya cara" untuk mengakhiri "masa-masa sulit", namun menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak boleh "disalahartikan sebagai penerimaan terhadap narasi-narasi yang selama ini menyudutkan saya".

Pihak universitas sebelumnya sempat membela Arday, namun pada hari Rabu menyatakan bahwa penyelidikan mereka dipicu oleh "informasi baru", tanpa merinci informasi tersebut.

Jesus College secara terpisah menyatakan bahwa mereka juga memulai penyelidikan sendiri.

Kepala perguruan tinggi tersebut, Sonita Alleyne—yang merupakan pimpinan kulit hitam pertama di sebuah perguruan tinggi Oxbridge—telah menarik namanya dari petisi yang membela Arday.

Skandal ini telah dimanfaatkan oleh surat kabar dan komentator sayap kanan, yang melabeli Arday sebagai "ikon" bagi kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI).

Surat kabar *The Times* baru-baru ini menerbitkan beberapa artikel investigasi mengenai karya akademis dan kehidupan pribadi Arday.

Dalam wawancara dengan surat kabar tersebut, Arday mengakui adanya "kesalahan" dalam karya akademisnya, namun menyatakan bahwa ia secara keliru "digambarkan sebagai pembohong, pengkhayal, dan pelaku kecurangan akademis".

Ia juga menduga bahwa "kampanye untuk melengserkan saya dari posisi saya" bermotif rasisme.

Tuduhan plagiarisme terhadap Arday pertama kali dilontarkan pada bulan Juli oleh Nathan Cofnas, seorang akademisi asal AS yang menyebut dirinya sebagai "realis ras" (*race realist*), yang afiliasi penelitiannya dengan sebuah perguruan tinggi di Cambridge dihentikan pada tahun 2024 di tengah tuduhan rasisme. 

Share: