Langit Oranye di Indonesia Akibat Krisis Kabut Asap Karhutla yang Meluas

Kebakaran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Indonesia telah menyebarkan asap ke seluruh wilayah sekitar. Pada hari Kamis, Timor-Leste mulai memberlakukan penutupan sekolah selama tiga hari akibat kabut asap tersebut.

 

Palangkaraya, Suarathailand- Kabut asap tebal mengubah langit di sebuah kota di Kalimantan Tengah menjadi berwarna kuning dan oranye yang tampak mengerikan pada hari Kamis. Jarak pandang pun berkurang hingga hanya beberapa puluh meter akibat kebakaran hutan dan lahan yang memicu krisis polusi udara di kawasan tersebut.

Hingga hari Kamis, Kuala Lumpur menempati peringkat pertama dalam daftar kota besar dengan polusi udara terburuk di dunia menurut IQAir, disusul oleh Singapura, serta Medan dan ibu kota Jakarta di Indonesia.

Kebakaran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Indonesia telah menyebarkan asap ke seluruh wilayah sekitar. Pada hari Kamis, Timor-Leste mulai memberlakukan penutupan sekolah selama tiga hari akibat kabut asap tersebut.

Namun, pihak yang paling terdampak adalah penduduk di pusat kebakaran, termasuk di Palangkaraya, Kalimantan, di mana langit berubah menjadi oranye pekat pada Rabu malam dan tetap berwarna kuning kusam pada hari Kamis.

"Beberapa hari terakhir ini, asapnya sangat tebal. Karena saya bekerja di luar ruangan, saya terpaksa menghirupnya meskipun sudah mengenakan masker," ujar Heri, seorang pengemudi ojek yang hanya menggunakan satu nama—seperti lazimnya banyak orang Indonesia.

"Mata saya mulai perih karena debu dari sisa-sisa kebakaran yang beterbangan di tengah asap," katanya kepada AFP.

"Saya tetap harus bekerja dan sudah berjuang menghadapi kabut asap ini selama empat bulan. Jika tidak bekerja, saya tidak akan punya penghasilan. Semua orang terpaksa berjuang melawan asap tebal ini."


Sangat Bahaya

Di Timor-Leste, warga terlihat beraktivitas di ibu kota Dili di bawah langit yang tampak kekuningan. Sebagian besar dari mereka mengenakan masker, sesuai dengan imbauan pemerintah yang disampaikan sehari sebelumnya saat mengumumkan penutupan sekolah.

Penduduk menyambut baik keputusan tersebut, meskipun mereka menyebutkan bahwa tingkat polusi sempat jauh lebih parah pada awal minggu ini.

"Belakangan ini, polusi di Dili sangat parah," ujar Sonya da Costa Soares, seorang bidan berusia 30 tahun, kepada AFP.

"Kita bahkan tidak bisa melihat matahari; polusinya sangat pekat," tambahnya. Meskipun anaknya masih terlalu kecil untuk bersekolah, ia mengatakan bahwa keputusan untuk meliburkan siswa adalah langkah yang “sangat penting agar anak-anak tidak berada dalam bahaya.”

Indonesia kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau, namun tahun ini kebakaran tersebut jauh lebih parah karena fenomena El Nino yang kuat telah memicu kekeringan.

Kebakaran telah melahap ratusan ribu hektare hutan dan perkebunan di Sumatra, Kalimantan, dan Papua, serta menyebabkan lonjakan polusi udara, baik di wilayah setempat maupun di Malaysia, Singapura, Filipina, dan Timor-Leste.

Vitaliano da Costa Calapes, seorang siswa berusia 18 tahun di St. Ignatius Loyola College, Dili, mengatakan bahwa ia sedang bersiap menghadapi ujian yang akan datang.

“Kami yakin dalam beberapa hari ke depan polusi akan hilang dan kegiatan sekolah akan kembali normal; itulah harapan kami,” ujarnya.

Felicidade Alves dos Santos Martins, yang putrinya, Febrianti, terpaksa belajar dari rumah karena sekolah menengahnya diliburkan, mengatakan bahwa kondisi polusi sempat jauh lebih buruk pada awal pekan ini.

“Rasanya seperti asap kebakaran menyelimuti seluruh Dili dan pegunungan di sekitarnya,” katanya. “Polusi ini sangat berbahaya dan bisa membuat kita jatuh sakit.”


Eksperimen Es Kering

Indonesia telah mengerahkan puluhan ribu petugas pemadam kebakaran untuk menangani kobaran api, namun masih kesulitan untuk mengendalikannya.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Dudung Abdurachman, pada hari Kamis, pemerintah berencana melakukan uji coba penyebaran es kering (dry ice) di beberapa wilayah Sumatra Selatan untuk “memecah asap.”

“Insyaallah, jika berhasil, kami akan melanjutkannya di wilayah-wilayah penting lainnya,” ujarnya saat mengumumkan rencana tersebut pada hari Rabu.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kabut asap berasal dari kebakaran di lahan gambut.

Kebakaran ini sulit dipadamkan karena api merambat di bawah permukaan tanah, terutama ketika ekosistem yang seharusnya basah dan tergenang air justru mengering akibat pengolahan lahan.

Meskipun kekeringan menjadi salah satu faktor penyebab kebakaran, para ahli menyatakan bahwa deforestasi dan pengeringan lahan gambut telah merusak lanskap yang sebelumnya tahan terhadap api.

Mark Parrington, seorang ilmuwan senior di Copernicus Atmosphere Monitoring Service, mengatakan kepada AFP bahwa estimasi total akumulatif emisi akibat kebakaran saat ini “masih lebih rendah dibandingkan tahun 2015.” 

Namun, ia mencatat bahwa musim kebakaran masih akan berlangsung selama beberapa minggu ke depan dan “dampak terhadap kualitas udara sangat parah serta terus berlanjut.”

Share: