Jerman Hadapi Lonjakan Kasus Rencana Serangan, Sabotase, dan Spionase

Pihak berwenang menyatakan seorang "agen tingkat rendah" diduga sedang merencanakan serangan di Jerman


Rumania, Suarathailand- Rumania sedang menahan seorang tersangka yang disebut sebagai "agen tingkat rendah" atas tuduhan mempersiapkan serangan, menyusul penemuan pistol dan amunisi di sebuah hutan dekat Berlin; demikian disampaikan Menteri Dalam Negeri Jerman pada hari Jumat.

Jerman menghadapi lonjakan kasus rencana serangan, sabotase, dan spionase, dengan kecurigaan sering kali mengarah pada Rusia akibat dukungan Jerman terhadap Ukraina dalam melawan invasi Rusia.

Meskipun tidak menyebut Moskow secara langsung, Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt mengatakan bahwa keterlibatan "kekuatan asing" dalam kasus senjata ini tidak dapat dikesampingkan, seraya menambahkan bahwa jaksa federal sedang melakukan penyelidikan.

Ia menyebut hal ini sebagai bentuk lain dari "ancaman hibrida" yang muncul di Jerman, sebuah istilah yang digunakan Berlin untuk menggambarkan tindakan agresi bermusuhan yang tidak sampai pada taraf serangan militer terbuka.

Berawal dari sebuah informasi intelijen, dinas intelijen dan kepolisian menemukan dua pucuk pistol dan amunisi yang disembunyikan di sebuah tempat persembunyian di hutan, kata Dobrindt.

Senjata-senjata tersebut telah dibuat tidak dapat berfungsi dan lokasi penemuannya dipantau untuk melihat apakah ada orang yang datang mengambilnya, namun tidak ada seorang pun yang muncul.

Penyelidikan lanjutan, yang melibatkan berbagai negara di Eropa dan wilayah lain, berujung pada penangkapan tersangka di Rumania; kini ia sedang diselidiki oleh jaksa Jerman atas dugaan persiapan serangan dan spionase.

Pihak berwenang Jerman menduga senjata-senjata tersebut terkait dengan rencana serangan, ujar Dobrindt, namun ia tidak memberikan rincian mengenai kemungkinan target serangan tersebut.

"Senjata-senjata yang ditemukan, termasuk amunisinya, jelas dimaksudkan untuk digunakan dalam melaksanakan rencana serangan," katanya.

Tersangka, yang disebut sebagai "agen tingkat rendah", juga sedang diselidiki di Rumania terkait rencana serangan yang kemungkinan akan dilakukan menggunakan bom paket, tambah Dobrindt.

Pihak berwenang Jerman menuduh Rusia merekrut agen "tingkat rendah" atau agen yang "bisa dikorbankan" (sekali pakai)—sering kali orang-orang yang dibayar dengan jumlah kecil dan minim pelatihan—untuk melakukan sabotase, spionase, dan serangan.

Dobrindt menolak mengungkapkan kewarganegaraan tersangka yang ditahan di Rumania dengan alasan penyelidikan yang sedang berlangsung.

Dobrindt menegaskan bahwa kasus ini menyoroti pentingnya sikap waspada terhadap ancaman hibrida. 

"Kami berhasil menangkal spionase, sabotase, dan operasi terselubung yang terkait dengan ancaman hibrida." Namun, anggota parlemen dari Partai Hijau, Konstantin von Notz—yang juga menjabat sebagai wakil ketua komite pengawas intelijen—secara khusus menyoroti Rusia.

"Temuan terbaru ini merupakan indikasi lain betapa Rusia telah lama bersikap memusuhi kita—dan betapa mendesaknya kebutuhan akan respons yang tegas," ujarnya kepada surat kabar *Rheinische Post*.

"Selama berbulan-bulan ini, kegiatan spionase, sabotase, dan upaya memengaruhi yang dampaknya sangat luas telah menjadi bagian dari keseharian."

Penemuan senjata ini merupakan kejadian terbaru dalam serangkaian insiden keamanan di Jerman.

Sebuah pesawat nirawak (drone) yang dilengkapi bahan peledak ditemukan bulan ini di Bandara Leipzig—pusat logistik utama bagi pengiriman senjata ke Ukraina—dan polisi mengerahkan robot penjinak bom untuk melepaskan detonatornya.

Badan intelijen domestik Jerman (BfV) telah lama memperingatkan bahwa Rusia dapat melancarkan serangan terhadap para eksekutif industri pertahanan, tokoh oposisi yang berada di pengasingan, serta pihak-pihak yang mendukung Ukraina.

Dugaan rencana pembunuhan disebut-sebut menargetkan Armin Papperger, CEO perusahaan raksasa pertahanan Rheinmetall, serta Stefan Thumann, pimpinan perusahaan pembuat drone Donaustahl.

Share: