Awal bulan ini, Jakarta dan Beijing memicu kemarahan Taiwan melalui latihan angkatan laut bersama di lepas pantai timur pulau demokratis tersebut.
Jakarta, Suarathailand- Menteri luar negeri dan menteri pertahanan Tiongkok berada di Jakarta pada hari Jumat untuk melakukan pembicaraan dengan rekan sejawat mereka dari Indonesia guna menjajaki kerja sama politik dan militer yang lebih erat.
Pertemuan ini berlangsung beberapa hari setelah latihan angkatan laut bersama yang dikecam Taiwan sebagai sebuah "provokasi".
Pembicaraan tersebut menandai "tonggak penting dalam hubungan bilateral kita," ujar Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono—yang dikenal dengan satu nama saja—saat menyambut mitranya dari Tiongkok, Wang Yi.
"Ini berfungsi sebagai platform strategis yang berorientasi ke masa depan, yang memandu kemitraan bilateral kita di kelima pilar—politik, ekonomi, maritim, hubungan antarwarga, dan keamanan."
Indonesia mempertahankan kebijakan luar negeri yang netral—yang disebutnya sebagai prinsip "bebas dan aktif"—dengan meniti keseimbangan diplomatik yang hati-hati antara Beijing dan Washington.
Awal bulan ini, Jakarta dan Beijing memicu kemarahan Taiwan melalui latihan angkatan laut bersama di lepas pantai timur pulau demokratis tersebut.
Kedua negara menyatakan bahwa kegiatan itu hanyalah "latihan saat melintas" (*passing exercise*), di mana sebuah fregat Indonesia melintas dalam perjalanan pulang dari kota pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Taiwan menyebutnya sebagai "provokasi militer" dari Partai Komunis Tiongkok.
Pada hari Jumat, Wang mengatakan bahwa sangat penting bagi Beijing dan Jakarta untuk "meningkatkan komunikasi strategis dan memperdalam koordinasi strategis" sebagai perwakilan penting dari negara-negara Global Selatan.
"Dunia saat ini dinamis dan penuh gejolak," ujarnya dalam pernyataan yang diterjemahkan dan disediakan oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia.
"Kita menyaksikan adanya unilateralisme dan hegemoni. Hal-hal tersebut telah memberikan pukulan berat bagi dunia serta agenda pembangunan global."
Agenda hari Jumat mencakup pertemuan perdana dari apa yang disebut sebagai "Mekanisme Dialog Strategis Komprehensif Tiongkok-Indonesia".
Antara lain, mekanisme ini bertujuan untuk mendorong "penyelarasan strategi pembangunan", kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menjelang kunjungan Wang.
Wang nantinya akan didampingi oleh Menteri Pertahanan Tiongkok, Dong Jun, dalam pembicaraan dengan pihak Indonesia mengenai "kerja sama keamanan politik dan pertahanan serta situasi internasional dan regional", menurut keterangan Beijing.
Tahun lalu, Jakarta bergabung dengan blok ekonomi negara berkembang BRICS, yang juga mencakup Rusia dan Tiongkok.
Namun, Presiden Prabowo Subianto juga telah menandatangani kesepakatan perdagangan dengan Presiden AS Donald Trump dan bergabung dengan apa yang disebut sebagai "Dewan Perdamaian" (*Board of Peace*) milik Trump. Peneliti hubungan internasional dari lembaga kajian CSIS, Pieter Pandie, mengatakan kepada AFP bahwa Jakarta masih "jauh lebih" condong ke Washington dibandingkan Beijing.
"Dari sisi keamanan dan pertahanan, hubungan Indonesia-China masih jauh kurang berkembang... dibandingkan dengan kerja sama keamanan Indonesia bersama mitra-mitra Barat dan Asia lainnya," ujarnya.
"Saya tidak akan terlalu menafsirkan apakah (pertemuan hari Jumat itu) menandakan semacam 'pergeseran arah' bagi Indonesia menuju Beijing," tambah Pandie.



