Pembatalan ini menyusul perintah Presiden AS Donald Trump pekan lalu untuk mengurangi skala latihan tahunan terpisah, Ulchi Freedom Shield.
Seoul, Suarathailand- CNA melaporkan Korea Selatan menyatakan pada hari Senin (24 Agustus) bahwa Amerika Serikat telah membatalkan latihan pendaratan amfibi gabungan berskala besar yang dijadwalkan bulan depan, karena keterbatasan ketersediaan pasukan akibat perang dengan Iran.
Latihan Ssangyong yang digelar dua tahunan ini melibatkan pasukan marinir dari Korea Selatan dan AS serta dirancang untuk memperkuat operasi gabungan; latihan ini biasanya melibatkan kapal perang, pesawat terbang, dan pasukan darat yang berlatih melakukan pendaratan amfibi.
Pembatalan ini menyusul perintah Presiden AS Donald Trump pekan lalu untuk mengurangi skala latihan tahunan terpisah, Ulchi Freedom Shield, dengan memangkas durasi latihan gabungan tersebut dari 11 hari menjadi lima hari.
Saat itu, Trump menyebutkan tingginya biaya latihan tersebut dan mengatakan bahwa latihan itu mengirimkan sinyal yang "tidak pantas dan bermusuhan" kepada Korea Utara, sembari menyoroti hubungannya dengan pemimpin negara itu, Kim Jong Un.
"Korps Marinir AS secara resmi memberi tahu pasukan kami pada bulan Juni bahwa kemampuan mereka untuk mengerahkan pasukan dalam latihan Ssangyong tahun ini akan terkendala akibat situasi di Timur Tengah," ujar Han Seung-jeon, juru bicara Korps Marinir Korea Selatan, kepada para wartawan dalam sebuah taklimat.
Seoul dan Washington terus melakukan konsultasi mengenai kemungkinan melanjutkan kembali latihan amfibi tersebut, katanya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Pentagon tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait pengumuman dari Seoul tersebut.
Perintah Trump pekan lalu untuk mengurangi skala latihan Ulchi Freedom Shield muncul di tengah upayanya untuk menghidupkan kembali hubungan yang telah ia bangun dengan Kim selama masa jabatan pertamanya.
Presiden AS tersebut mengatakan pada hari Rabu bahwa penting untuk "menjalin hubungan baik" dengan Kim, seraya menambahkan bahwa Pyongyang kini memiliki 57 senjata nuklir yang "sangat kuat".
Seoul memperkirakan bahwa Korea Utara memiliki sekitar 80 hingga 120 senjata semacam itu.
Trump dan Kim telah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama Trump, namun Pyongyang mempercepat program nuklirnya setelah pertemuan puncak kedua mereka di Hanoi pada tahun 2019 gagal mencapai kesepakatan mengenai denuklirisasi Korea Utara.



