CBO Perkirakan Biaya Perang AS Lawan Iran Capai Rp670 Triliun, AS Boncos

Perang yang terus berlanjut akan menambah biaya miliaran dolar lagi setiap bulannya bagi AS.


AS, Suarathailand- Congressional Budget Office (CBO) melaporkan pada 15 September bahwa biaya militer AS akibat perang melawan Iran diperkirakan telah mencapai US$38 miliar (Rp670 triliun) hingga 1 Agustus.

Para analis Kongres memperkirakan adanya biaya tambahan bulanan sebesar US$2 miliar hingga US$3 miliar, tergantung pada intensitas pertempuran, seperti dilaporkan The Nation.

CBO memperkirakan pemulihan stok rudal pencegat yang telah menipis dapat memakan waktu setidaknya lima tahun. Pentagon membantah temuan mengenai kekurangan stok tersebut.

Perang Amerika Serikat melawan Iran telah menimbulkan biaya militer yang diperkirakan mencapai US$38 miliar (Rp670 triliun) hingga 1 Agustus, demikian laporan Congressional Budget Office (CBO)—lembaga nonpartisan—di Washington pada hari Selasa (15 September 2026). 

Operasi yang terus berlanjut akan menambah biaya miliaran dolar lagi setiap bulannya.

CBO memperkirakan biaya bulanan sekitar US$2 miliar selama pertempuran dengan intensitas lebih rendah dan US$3 miliar pada tingkat intensitas seperti yang terjadi di bulan Juli, dengan potensi eskalasi lebih lanjut yang dapat meningkatkan biaya tersebut.

Anggota Kongres dari Pennsylvania, Brendan Boyle, yang merupakan anggota senior Partai Demokrat di Komite Anggaran DPR, meminta dilakukannya penilaian tersebut. 

CBO mengandalkan informasi publik setelah Departemen Pertahanan tidak menanggapi permintaan data, sehingga menimbulkan ketidakpastian yang cukup besar terkait perkiraan biaya tersebut.


Pemulihan Stok Rudal AS Butuh Waktu Lima Tahun

Penggantian amunisi yang telah digunakan mencakup sebagian besar biaya langsung perang melawan Iran, menurut analis anggaran Kongres. Memulihkan kembali stok rudal pencegat yang telah menipis dapat memakan waktu setidaknya lima tahun.

CBO memperingatkan bahwa berkurangnya persediaan rudal pencegat dapat membatasi respons AS terhadap konflik besar lainnya, termasuk konflik yang melibatkan Tiongkok dan Taiwan.

Reuters melaporkan pada bulan Agustus bahwa Angkatan Darat AS telah menggunakan hampir seluruh stok jenis rudal presisi jarak jauh tertentu selama kampanye militer melawan Iran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memaparkan perkiraan biaya sebesar US$37,5 miliar dalam sidang Senat pada 21 Juli, saat ia mendesak persetujuan dana darurat sebesar hampir US$90 miliar. Hegseth memperingatkan akan adanya "kekurangan kritis" jika dana tersebut tidak tersedia.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, membela serangan yang diperintahkan Presiden Donald Trump sebagai langkah untuk melindungi personel dan kepentingan AS, serta menegaskan bahwa persediaan amunisi masih mencukupi.

Kepala juru bicara Pentagon, Sean Parnell, juga membantah temuan mengenai kekurangan stok tersebut, dengan menegaskan bahwa militer masih memiliki sumber daya yang memadai untuk menjalankan misi-misinya. Lembaga pengawas mencatat kerusakan pada pangkalan dan pesawat AS

Inspektur Jenderal Pentagon mencatat kerusakan yang disebabkan oleh Iran pada ratusan bangunan di pangkalan-pangkalan AS di seluruh Timur Tengah. Lembaga pengawas tersebut juga mendokumentasikan kehilangan dan kerusakan pesawat, termasuk jet tempur, pesawat pengisi bahan bakar, dan pesawat nirawak (drone).

Inspektur Jenderal menyebutkan perkiraan biaya militer sebesar US$33,4 miliar hingga 29 Juni, tidak termasuk perbaikan infrastruktur. Laporan tersebut secara terpisah mencatat kerusakan senilai sekitar US$184 juta pada fasilitas diplomatik AS akibat serangan Iran.


Perang dengan Iran Menambah Tekanan pada Inflasi dan Utang AS

CBO memperkirakan inflasi tahunan AS—yang diukur berdasarkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi—akan berada 0,5 poin persentase di atas perkiraan sebelum perang pada kuartal pertama tahun 2027.

Serangan yang berdampak pada pelayaran di Selat Hormuz dan fasilitas energi di kawasan Teluk telah menaikkan harga energi bagi konsumen maupun produsen. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat tersebut.

Serangan terhadap kapal dan pangkalan yang terjadi baru-baru ini berada di luar periode perhitungan CBO. Biaya pinjaman juga tidak disertakan dan berpotensi menambah beban puluhan miliar dolar, menurut laporan Reuters.

Utang publik AS melampaui angka US$40 triliun pada bulan Agustus, menambah tekanan fiskal yang menyertai konflik tersebut.

Boyle mengkritik dampak perang dari sisi kemanusiaan dan finansial, dengan menyoroti personel militer yang tewas atau terluka serta beban bagi pembayar pajak. Boyle berpendapat bahwa "perang ini juga telah menelan biaya puluhan miliar dolar dari uang pembayar pajak Amerika dan jumlahnya terus bertambah, sembari terus memicu kenaikan biaya".

Reuters sebelumnya melaporkan adanya 18 kematian personel militer AS dalam konflik tersebut hingga bulan Juli.

Trump berupaya mengakhiri perang dan membuka kembali akses ke Selat Hormuz, sembari membandingkan situasi dengan Iran terhadap perang pasca-peristiwa 11 September di Irak dan Afghanistan. Kedua konflik sebelumnya tersebut melibatkan lebih dari 100.000 tentara AS pada puncaknya.

Perang Irak yang berlangsung selama delapan tahun diperkirakan menelan biaya sekitar US$2 triliun. Proyek *Costs of War* dari Universitas Brown memperkirakan biaya perang selama dua dekade di wilayah Afghanistan/Pakistan mencapai US$2,3 triliun. Estimasi historis tersebut mencakup kategori biaya yang lebih luas dibandingkan perhitungan saat ini untuk operasi militer AS melawan Iran.

Share: