Aksi *walkout* ini juga menarik perhatian besar di media Israel. Channel 14 Israel menggambarkannya sebagai tindakan "meludahi wajah Israel," sementara Yedioth Ahronoth menyebutnya sebagai "protes dramatis."
New York, Suarathailand- Rekaman dari dalam ruangan menunjukkan banyak delegasi meninggalkan tempat sebelum Netanyahu mulai berpidato, sehingga menyisakan hadirin yang terbatas di tengah suara seruan protes dan kecaman yang terdengar.

Menurut laporan dari Israel, perwakilan dari 77 negara tidak hadir saat Netanyahu berpidato. Beberapa delegasi melakukan aksi *walkout* (keluar ruangan sebagai bentuk protes) sesaat sebelum ia naik ke podium, sementara perwakilan negara-negara lain memang tidak menempati kursi mereka sejak awal.
Aksi *walkout* ini juga menarik perhatian besar di media Israel. Channel 14 Israel menggambarkannya sebagai tindakan "meludahi wajah Israel," sementara Yedioth Ahronoth menyebutnya sebagai "protes dramatis."
Sementara itu, Haaretz menggambarkan pidato Netanyahu sebagai pidato yang repetitif dan membosankan, seraya menambahkan bahwa pidato tersebut terutama ditujukan bagi basis politik sayap kanannya dan Presiden AS Donald Trump, di tengah situasi yang disebut surat kabar itu sebagai kian meningkatnya isolasi internasional terhadap perdana menteri Israel tersebut.
Media internasional juga menyoroti aksi *walkout* tersebut. The Guardian melaporkan bahwa Netanyahu berjanji untuk "menyelesaikan tugasnya" di Gaza saat para delegasi meninggalkan ruangan sebagai bentuk protes.
Sementara The Washington Post menampilkan aksi *walkout* itu sebagai bagian dari reaksi keras global yang kian meluas terhadap kebijakan-kebijakan Israel. Independent dari Inggris menyebut bahwa Netanyahu pada dasarnya berbicara di hadapan satu orang hadirin saja.
Bersamaan dengan pidato Netanyahu di PBB, para pengunjuk rasa berkumpul di dekat Times Square di New York untuk menuntut diakhirinya serangan Israel terhadap Jalur Gaza.
Peristiwa ini terjadi di tengah perang berkelanjutan rezim Zionis terhadap Gaza, yang telah menyebabkan jatuhnya banyak korban sipil serta kehancuran masif, sekaligus meningkatkan kritik internasional terhadap kebijakan Israel terkait Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki.



