WHO Ungkap Konflik dan Rawan Pangan Perparah Wabah Ebola di Kongo

Wabah saat ini menandai epidemi Ebola ke-17 di RD Kongo. Tes laboratorium mengidentifikasi galur Bundibugyo dari virus  yang merupakan galur Ebola yang relatif langka.


Kongo, Suarathailand- Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesu mengatakan situasi wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo "sangat kompleks," dengan konflik, kerawanan, pengungsian, kelangkaan pangan, dan ketidakpercayaan masyarakat memperumit upaya pengendalian wabah tersebut.

Di Kinshasa, Kongo, Kamis (28/5), Tedros mengatakan dirinya datang untuk menunjukkan kepada masyarakat yang terdampak bahwa "mereka tidak sendirian" dan WHO ada di sana untuk mendukung upaya respons.

Tim WHO sudah turun ke lapangan di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, RD Kongo bagian timur, katanya, seraya menambahkan dirinya akan berangkat ke Bunia pada Jumat (29/5) untuk menilai situasi.

Tedros mengatakan konflik dan kerawanan termasuk faktor-faktor utama yang menghambat upaya penanggulangan. Dia juga mengulangi seruannya agar dilakukan gencatan senjata di daerah-daerah terdampak yang dilanda serangan bersenjata.

Ketika ditanya mengenai pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh beberapa negara terhadap pelancong dari RD Kongo, Tedros mengatakan "larangan perjalanan tidak disarankan oleh WHO," sambil menjelaskan bahwa langkah tersebut mungkin hanya akan menunda penularan selama beberapa hari.

"Pendekatan terbaik adalah mengintensifkan langkah-langkah pengendalian di sumbernya dan memberikan dukungan," tuturnya.

Pemberlakuan larangan perjalanan juga dapat berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, tambah Tedros. Dia memperingatkan bahwa negara-negara yang melaporkan wabah secara transparan bisa merasa sedang dihukum, sehingga berpotensi membuat mereka enggan melaporkan kasus sejak dini.

Lebih dari 1.000 kasus suspek dan 238 kematian yang diduga akibat Ebola telah dilaporkan seiring wabah terbaru ini meluas di provinsi-provinsi RD Kongo bagian timur, sebut laporan situasi yang dirilis pada Rabu (27/5) oleh kementerian kesehatan negara tersebut

Wabah saat ini menandai epidemi Ebola ke-17 di RD Kongo. Tes laboratorium mengidentifikasi galur Bundibugyo dari virus tersebut, yang merupakan galur Ebola yang relatif langka.

WHO pada 17 Mei menyatakan wabah tersebut sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika kemudian mengumumkan situasi darurat keamanan kesehatan masyarakat tingkat benua.

Share: