Kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, sebelumnya melaporkan bahwa Teheran tidak menyetujui untuk mentransfer uranium yang telah diperkayanya ke luar negeri.
AS, Suarathailand- Di Truth Social, Presiden AS Donald Trump mengatakan uranium yang diperkaya milik Iran akan dihancurkan setelah diserahkan kepada AS, di tempat yang sama, atau di "lokasi yang dapat diterima" lainnya.
"Uranium yang Telah Diperkaya (Debu Nuklir!) akan segera diserahkan kepada AS untuk dibawa pulang dan dihancurkan atau, yang lebih baik, melalui kerja sama dan koordinasi bersama Republik Islam Iran, dihancurkan di tempat atau di lokasi lain yang dapat diterima, dengan IAEA," tulis Trump di Truth Social.
Trump tidak merinci berapa banyak uranium yang telah diperkaya yang dia maksud. Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) sebelumnya telah memantau aktivitas nuklir Iran melalui berbagai pengaturan inspeksi.
Kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, sebelumnya melaporkan bahwa Teheran tidak menyetujui untuk mentransfer uranium yang telah diperkayanya ke luar negeri, sekaligus membantah laporan saluran berita Al Hadath yang berbasis di Arab Saudi yang mengeklaim bahwa "Iran siap memindahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi dari wilayahnya."
Tasnim mengatakan bahwa laporan mengenai rincian nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) potensial antara Teheran dan Washington tidak benar.
"Dalam teks MoU yang ada hingga hari ini, tidak ada pernyataan yang menyebutkan kesiapan (Iran) untuk memindahkan material nuklir, dan Iran pada dasarnya tidak membuat komitmen apa pun terkait tindakan nuklir di dalam memorandum tersebut," papar Tasnim.
The Washington Post, mengutip seorang pejabat Iran, pada Senin melaporkan bahwa dalam tahap pertama dari kemungkinan kesepakatan, Washington akan mencairkan aset Iran yang dibekukan senilai 12 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.743), operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz akan dimulai, dan blokade AS akan dicabut.
Namun, kesepakatan tersebut tidak mencakup perjanjian nuklir, demikian seperti dikutip dari pejabat Iran itu.



