Thailand: Pusat Diaspora Cina Terbesar di Dunia

Merayaan Imlek di Thailand bisa dipastikan selalu meriah dan penuh  antusias setiap tahunnya. Hampir setiap rumah penduduk keturunan Cina  menyalakan lilin, dupa, lengkap dengan suara petasan kembang api.

Di Thailand, perayaan Imlek berlangsung selama tiga hari dan memiliki fase masing-masing.  The Nation melaporkan perayaan hari pertama atau bertepatan dengan malam tahun  baru dikenal sebagai Wan Jai, hari ketika orang-orang berbelanja makanan  dan bahan-bahan untuk ritual Imlek.

Keesokan harinya atau hari  kedua disebut hari akhir tahun atau Wan Wai. Di hari tersebut  orang-orang mulai berdoa untuk memohon kebaikan di sepanjang tahun  berikutnya sekaligus menghormati para leluhur mereka. Kemudian di hari  terakhir atau tahun baru dikenal sebagai Wan Thiew di mana orang-orang  keturunan menggunakan baju baru dan mengunjungi para kerabat yang lebih  tua.

Meriahnya Imlek di Thailand turut menyedot minat wisatawan untuk datang ke Bangkok dan provinsi-provinsi terdekat lainnya.

Pada  perayaan Imlek tahun 2019 ini misalnya, selama libur sepekan dari  tanggal 4 hingga 10 Februari, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT)  memperkirakan ada lebih dari satu juta kedatangan turis asing ke negeri  gajah putih itu. Perkiraan ini naik delapan persen dari tahun sebelumnya  seperti dilansir dari Bangkok Post.

Dari  satu juta target turis asing, diharapkan ada 330 ribu yang datang dari  Republik Rakyat Cina (RRC), naik empat persen dari musim lalu, dan bisa  memberikan kontribusi sekitar 10,2 miliar baht, naik 12 persen.

Populasi  keturunan Cina di Thailand memang yang terbesar di Asia maupun dunia.  Dari sensus tahun 2010 sampai 2014, jumlahnya mencapai sekitar tujuh  juta jiwa, disusul Malaysia 6,6 juta jiwa dan Amerika Serikat 4,7  juta jiwa. Hampir semua keturunan Cina di Thailand atau disebut Cina  Thai mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Thailand. Mereka  berasimilasi dengan baik dan erat. Perkawinan campur, berbahasa Thailand  dengan fasih, bergaul dengan orang-orang Thailand, dan juga mewarnai  perpolitikan dan perekonomian negara tersebut. Lantas, mengapa Thailand bisa memiliki begitu banyak komunitas keturunan Cina?


Asal Keturunan China di Thailand

Diperkirakan, orang Cina telah berimigrasi ke Siam (Thailand) setidaknya selama enam abad terakhir. Dalam catatan Global-is-Asian (GIA), sejak zaman Raja Taksin yang memerintah Kerajaan  Thonburi antara 1767 sampai 1782, sejumlah besar imigran Cina telah ada  dan berkontribusi pada tenaga kerja dan pajak negara. Antara 1825  sampai 1910, populasi Cina di Thailand meningkat tiga kali lipat dari  230 ribu menjadi 792 ribu jiwa.

Namun beberapa sumber sejarah lain meyakini orang Cina sudah datang sejak abad 13, saat Kerajaan Sukhothai, Thailand  diperintah oleh Raja Ram Kamheng. Diketahui Raja Ram Kamheng pernah  mengunjungi Cina sebanyak dua kali, pada 1294 dan pada 1300.  Sekembalinya di kunjungan pertama, Ram membawa sejumlah pengrajin Cina  untuk membikin aneka tembikar dan sejenis.

Keturunan Cina yang  datang dan menetap di Thailand tidak datang dari satu suku saja. Antonio  Rappa dalam “Thailand’s Chinese Population: Teochiu Speakers and Political Identity” (2014) mencatat, ada lima suku besar etnis Cina yang  ada di Thailand. Mereka adalah suku penutur bahasa Teochiu sebesar 56  persen atau sekitar 3,64 juta jiwa, Hakka sebesar 16 persen atau 1,3  juta jiwa, kemudian Hainan, Kanton dan Hokkian yang masing-masing  membentuk populasi sebesar 11 persen atau 1,56 juta jiwa.

Dari  sederet keturunan Cina yang menjadi orang Thailand, suku Teochiu adalah  yang paling banyak memegang jabatan strategis dari politik sampai  bisnis.

Sejak bermigrasi ke tanah Siam, orang Cina langsung mudah  berasimilasi dengan penduduk lokal. Terlebih di sepanjang era  pemerintahan Ayutthayan (1357-1767), orang-orang Cina dikelompokkan dan  diberi kepala pemimpin atau kapten Cina yang dimasukkan ke dalam  struktur jabatan pemerintahan.

Saking cairnya hubungan pendatang  Cina dengan penduduk lokal, G. William Skinner dalam "Chinese  Assimilation and Thai Politics" (1957) mencatat pada abad ke-19 beberapa  anak dan hampir semua cucu migran Cina mencapai tingkat asimilasi yang  lengkap dengan masyarakat Thailand. Bahkan keturunan Cina generasi keempat hampir tidak terdengar, bukan karena lenyap tetapi karena mereka  sukses menjadi orang Thailand.

Selain faktor kebijakan  pemerintah yang merangkul dan memberdayakan mereka, ada banyak faktor  lain yang membuat proses asimilasi berjalan cepat dan alamiah. Secara  umum, ada banyak kesamaan antara Thailand dan Cina. Makanan, misalkan,  mereka sama-sama mengonsumsi nasi, ikan, dan daging babi.


Lalu  asimilasi juga makin alamiah karena perkawinan campur. Pada awal abad  20, wanita Cina hampir tidak ikut bermigrasi ke Thailand. Karenanya,  migran Cina di Thailand menikahi wanita lokal. Perkawinan ini yang  kemudian melahirkan apa yang disebut luk-jin, anak yang lahir dari ayah  Cina dan ibu Thailand.

Selain itu, menurut Skinner, asimilasi  sebelum abad ke-20 juga didukung oleh tidak adanya sentimen nasionalis  antara migran Cina dengan penduduk Thailand.


Pasangan Surut Hubungan

Meski begitu, hubungan komunitas Cina dengan orang Thailand bukannya  tidak pernah bergejolak. Setelah menikmati masa-masa hubungan harmonis  beberapa abad, ketegangan antara penduduk Cina dengan pemerintah  kerajaan terjadi pada masa pemerintahan Raja Rama VI (memerintah dari  1910-1925)

Kenneth Perry Landon dalam "The Problem of the  Chinese in Thailand" (2014) menyebut, pada tahun pertama pemerintahan  Raja Rama VI, penduduk Cina dikenai pajak tinggi dari yang semula per  tahunnya 1,5 bath melonjak menjadi tujuh bath. Akibatnya, terjadi  ketegangan yang berujung mogok massal pada 1911. Mereka menutup  pertokoan, dan berhenti menjalankan bisnis lainnya. Thailand mengalami  kelumpuhan.

Dalam waktu nyaris bersamaan, nasionalisme Cina meningkat karena  kemenangan kaum revolusioner Cina lewat koalisi gerakan Sun Yat-sen yang  menggulingkan Dinasti Qing dan melahirkan Republik Cina. Kemenangan  ini didengar oleh perantau Cina di Thailand dan mereka ikut gembira  serta membangkitkan rasa nasionalisme dalam diri mereka.

Di  tengah gejolak politik itu, Raja Rama VI malah turut menghembuskan  sentimen anti-Cina ketika dia menyebarkan tulisannya di surat kabar  berbahasa Thailand pada 1914. Dengan menggunakan nama pena Asavabahu, ia  menyebut perantau Cina di Thailand sebagai “orang Yahudi di Timur” yang mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain.

Sejak itu, pandangan sebagian besar orang Thailand terhadap orang Cina  berubah. Ditambah, di era tersebut terdapat kesenjangan ekonomi yang  menyebabkan sebagian orang Thailand kerap mengeskpresikan keadaan dengan  menghina orang Cina.

Pada periode ini, perempuan Cina mulai  banyak yang bermigrasi ke Thailand dalam jumlah yang jauh lebih besar  pasca ambruknya Dinasti Qing. Karena ini pula, sesama perantau Cina  saling menikah dan membentuk komunitas kebangsaan sendiri, dan orang  Thailand memandang mereka sebagai orang asing.

Bahkan setelah  abad 20, sentimen anti-Cina ini masih berjalan. Para nasionalis garis  keras pernah merumuskan kebijakan Thaification yang bertujuan  menyeragamkan kebudayaan dan identitas Thailand. Chee Kiong Tong dan  Kwok B. Chan dalam Alternate Identities: The Chinese of Contemporary Thailand (2001) pernah menguraikan, bentuk-bentuk kebijakan Thaification selanjutnya adalah mengurangi pendatang Cina, hingga melarang sekolah-sekolah Cina.

Ini  terjadi ketika rezim junta militer yang dipimpin Plaek Phibunsongkhram  menguasai Thailand (1938-1944, dan 1948-1957). Ironisnya, Plaek adalah  cucu dari seorang imigran asal Cina. Karena kebijakan Plaek ini,  sebagian besar warga keturunan Cina di Thailand kehilangan identitas  etnis mereka, termasuk nama-nama Cina. (dikutip dari Tirto.id)

Share: