AS Klaim Berpegang pada Prinsip Satu China Usai Trump Bertemu Xi

Trump berdalih penjualan senjata ke Taiwan adalah karena AS menjual alutsista buatannya ke berbagai wilayah di dunia.


AS, Suarathailand- Fox News melaporkan Duta Besar Amerika Serikat untuk China David Perdue mengatakan, setelah pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping di Washington D.C., Pemerintah AS tetap mendukung prinsip Satu China dan kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah.

"Dukungan AS terhadap hal itu tidak berubah. Kami tidak mendukung kemerdekaan dan kami tidak mendukung pemaksaan," kata Perdue.

Perdue juga menolak anggapan bahwa AS gagal memberikan dukungan pertahanan memadai bagi Taiwan dan menyebut dukungan Presiden AS Donald Trump terhadap pulau tersebut masih sangat kuat.

Trump bahkan telah menyetujui pengiriman senjata ke Taipei, yang menurutnya, 50 persen lebih banyak daripada presiden sebelumnya sejak tahun 1979.

Pengiriman senjata di pemerintahan Trump itu termasuk paket persenjataan senilai 11 miliar dolar (sekitar Rp197,5 triliun) yang telah disetujui sebelumnya, sementara pembahasan mengenai pengiriman senjata tambahan masih berlanjut.

"Dia (Trump) dan Presiden Xi membicarakan hal itu setiap kali mereka bertemu," tambah Perdue.

Dia menambahkan bahwa Trump berdalih penjualan senjata ke Taiwan adalah karena AS menjual alutsista buatannya ke berbagai wilayah di dunia.

Trump pun berseloroh kepada Presiden China Xi Jinping terkait apakah Beijing ingin membeli persenjataan dari AS kapan-kapan.

Sabtu (26/9), Trump mengatakan tak membahas banyak soal Taiwan saat bertemu Xi. Trump menilai sang presiden China itu amat memahami posisnya terkait hal tersebut.

Sementara terkait keamanan kawasan, Perdue memastikan AS telah menegaskan kepada China bahwa mengirim bantuan intelijen, komponen, atau perangkat militer kepada Iran di tengah situasi perang dengan AS saat ini adalah kondisi yang "amat tak bisa diterima".

Perdue mengatakan bahwa Xi menegaskan komitmennya pada Mei lalu, yang menolak Iran memiliki senjata nuklir, mendukung pelayaran bebas di Selat Hormuz, serta menentang pemungutan bea lintas di Selat Hormuz.

Perdue juga menyebut pejabat China sudah mulai menyadari ancaman yang dapat muncul dari sistem kecerdasan buatan (AI) dan AS akan mempertahankan dialog dengan Beijing terkait hal itu.

Sumber: Anadolu

Share: