Suu Kyi Terima Paket dari Raja Charles III, Inggris Desak Pembebasan Suu Kyi

Kudeta di Myanmar memicu perang saudara yang masih berlangsung dan telah menewaskan lebih dari 100.000 orang, menurut lembaga pemantau ACLED.


Myanmar, Suarathailand- Aung San Suu Kyi dari Myanmar menerima paket dari Raja Charles III dari Inggris pada hari Senin, menurut keterangan pihak berwenang. 

Mereka merilis foto-foto peraih Nobel yang sedang ditahan tersebut—foto pertama dalam dua bulan terakhir—dan menyebutnya sebagai "tahanan perempuan istimewa".

Ini adalah kali pertama pihak berwenang Myanmar menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada Suu Kyi, yang digulingkan dalam kudeta militer pada tahun 2021. 

Kudeta ini memicu perang saudara yang masih berlangsung dan telah menewaskan lebih dari 100.000 orang, menurut lembaga pemantau ACLED.

Pemimpin kudeta sekaligus mantan kepala junta, Jenderal Min Aung Hlaing, dilantik sebagai presiden sipil pada bulan April menyusul pemilihan umum yang tidak menyertakan partai politik Suu Kyi. Tak lama setelah itu, Suu Kyi dipindahkan ke tahanan rumah.

Pejabat Kementerian Dalam Negeri menemuinya di Nay Pyi Taw pada hari Senin untuk menyerahkan paket berisi dua buku tentang tanah, "satu amplop tertutup, dan komunikasi diplomatik tertutup yang dikirim oleh Raja Charles III dari Inggris kepada tahanan perempuan istimewa tersebut," ungkap juru bicara kepresidenan Myanmar melalui halaman Facebook-nya.

Inggris merupakan mantan penjajah Myanmar, dan sang raja dikenal memiliki minat besar pada kegiatan berkebun serta lingkungan hidup.

Bersamaan dengan pernyataan tersebut, dirilis dua foto yang memperlihatkan Suu Kyi sedang bertemu dengan dua pria yang membelakangi kamera.

Foto-foto itu tampak diambil di ruangan yang sama dengan foto-foto yang dirilis sebelumnya—saat ia bertemu dengan perwakilan Palang Merah pada bulan Agustus—yang merupakan pertemuan pertamanya dengan pejabat asing yang dipublikasikan sejak ia digulingkan.

Tim pemeriksa fakta AFP telah memeriksa foto-foto terbaru tersebut dan tidak menemukan bukti adanya manipulasi menggunakan perangkat kecerdasan buatan generatif (Generative AI) dari Meta maupun OpenAI

Suu Kyi masih ditahan atas berbagai tuduhan yang menurut kelompok hak asasi manusia sengaja direkayasa untuk mengembalikan kekuasaan kepada militer—pihak yang secara historis telah menguasai Myanmar sejak negara itu merdeka.

"Saya telah bersikap sangat lunak kepadanya," ujar Min Aung Hlaing dalam sebuah wawancara dengan majalah Time yang diterbitkan bulan lalu.

Menanggapi pertanyaan dari AFP, Kantor Luar Negeri Inggris di London tidak memberikan keterangan apakah para diplomat Inggris sempat berupaya menyerahkan paket tersebut secara langsung, atau apakah mereka ditolak izinnya untuk melakukannya. 

Inggris mengecam apa yang disebutnya sebagai "penahanan sewenang-wenang" terhadap Suu Kyi dan menyerukan pembebasannya segera tanpa syarat.

Share: