Sekjen PBB memandang hal itu sebagai bukti bahwa salah satu institusi multilateral yang amat mendesak untuk direformasi saat ini adalah DK PBB itu sendiri.
Jakarta, Suarathailand- Antara melaporkan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyampaikan keprihatinan akan adanya negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang gagal menjadi contoh perdamaian global dan justru menjadi pihak yang memulai perang.
“Hari ini kita melihat anggota tetap Dewan Keamanan PBB justru melancarkan perang dengan mengabaikan hukum internasional,” kata Sekjen PBB dalam pernyataan yang disampaikan saat agenda “Foreign Policy Circle Talks” di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di Jakarta, pada Senin.
Sekjen PBB mengatakan "langkah sembrono" tersebut melumpuhkan DK PBB dan membuat kapasitasnya dalam memajukan perdamaian dan keamanan dunia semakin terbatas.
Hal itu juga melunturkan kepercayaan masyarakat dunia terhadap kemampuan kerja sama internasional dalam memberikan solusi terhadap tantangan yang mereka hadapi sehari-hari.
Sekjen PBB memandang hal itu sebagai bukti bahwa salah satu institusi multilateral yang amat mendesak untuk direformasi saat ini adalah DK PBB itu sendiri.
Sekjen PBB Guterres menyayangkan bahwa susunan anggota tetap DK PBB saat ini tak lagi dapat mewakili kondisi global saat ini.
Sekjen menjabarkan lima anggota tetap DK PBB; tiga di antaranya adalah negara Eropa yaitu Prancis, Inggris, dan Rusia; satu negara Amerika utara yaitu Amerika Serikat; dan satu negara Asia yaitu Republik Rakyat China.
“Apakah itu ada kaitannya dengan dunia saat ini? Apakah itu badan yang masih dapat mewakili realitas dunia di hari ini? Tentu saja tidak,” tegas Guterres.
Dengan demikian, reformasi multilateral, khususnya DK PBB, merupakan sebuah keharusan jika menginginkan instrumen multilateral yang efektif dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia.
Reformasi tersebut harus dilakukan dengan cara memastikan negara-negara berkembang memiliki pengaruh serta peluang berkontribusi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan, kata dia.
Guterres menegaskan langkah itu amat penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat global terhadap multilateralisme di tengah lunturnya semangat solidaritas internasional.



