Saudi Terdesak, Minta Suriah Kirim Ribuan Tentara Hadapi Ansarallah Yaman

 

 

Saudi. Suarathailand- Ribuan tentara Suriah akan dikerahkan ke Arab Saudi dan Yaman—dengan sebagian di antaranya sudah tiba di lokasi—menurut keterangan sejumlah pejabat Yaman kepada AFP. 

Langkah ini diambil seiring upaya Riyadh menggalang dukungan internasional untuk menghalau kelompok Ansarallah Yaman dan memperkuat pemerintahan di Aden.

Perkembangan ini menyusul penandatanganan perjanjian kerja sama antara kedua negara pekan ini, termasuk kesepakatan di bidang pertahanan. 

Suriah juga mempertimbangkan untuk bergabung dengan pakta pertahanan bersama yang baru saja disepakati antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.

Menurut tiga sumber militer Yaman yang terpisah serta seorang pejabat pertahanan, ratusan tentara Suriah telah dikerahkan ke kedua sisi perbatasan, dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah.

Pada Sabtu malam, kantor berita resmi Suriah, SANA, mengutip seorang sumber diplomatik yang menegaskan bahwa Damaskus belum mengirimkan pasukan ke Yaman "untuk saat ini".

Namun, seorang sumber dari Dewan Kepemimpinan Presiden (Presidential Leadership Council/PLC)—badan pemerintahan tertinggi di Yaman—mengungkapkan kepada AFP bahwa Suriah akan mengirimkan hingga 3.000 tentara untuk membantu melawan kelompok Ansarallah Yaman.

Menurut sumber dari PLC tersebut, kesepakatan ini disetujui saat kunjungan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa ke Riyadh pekan ini, di mana kedua negara menyepakati berbagai kerja sama.

Selanjutnya, seorang sumber tingkat tinggi di Kementerian Pertahanan Yaman menyampaikan kepada AFP bahwa meskipun tahap pertama akan melibatkan sekitar 3.000 tentara—dengan sebagian di antaranya sudah berada di lokasi—jumlah total pasukan yang dikerahkan nantinya bisa mencapai 10.000 personel.

Salah satu pejabat militer mengatakan kepada AFP bahwa pasukan yang saat ini telah ditempatkan di sisi perbatasan Yaman sedang memimpin operasi pesawat nirawak (drone) untuk melawan kelompok Houthi di wilayah tersebut.

Arab Saudi—pendukung utama pemerintahan Suriah pasca-Assad yang berkuasa sejak akhir 2024—telah meminta bantuan kepada sekutu-sekutunya. 

Hal ini dilakukan di tengah serangan harian yang dilancarkan oleh kelompok yang didukung Iran tersebut, yang baru-baru ini berhasil merebut sebagian wilayah pesisir Laut Merah dari pemerintahan yang didukung oleh Riyadh. 

Kelompok Houthi telah meningkatkan serangan terhadap kerajaan tersebut dalam beberapa pekan terakhir, yang menyebabkan bandara Riyadh ditutup selama dua minggu setelah serangan mematikan di lokasi itu, serta mengancam rencana diversifikasi ekonomi Arab Saudi yang berskala besar.


Pasukan di Lapangan 

Menurut sumber dari kementerian pertahanan Yaman, tim teknis dari kementerian pertahanan Suriah dan Arab Saudi saat ini berada di Riyadh untuk merampungkan pengaturan terkait partisipasi pasukan Suriah dalam operasi melawan milisi Houthi.

Baru minggu lalu, diplomat tinggi Suriah menyatakan secara terbuka bahwa Damaskus sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan aliansi pertahanan ala NATO yang berpusat di Mekkah, yang mencakup Turki, Arab Saudi, dan Pakistan.

Sumber diplomatik yang dikutip oleh SANA mengatakan bahwa kesepakatan dengan Riyadh "berfokus pada pelatihan pasukan militer dan pengembangan kapabilitas mereka," seraya menambahkan bahwa "kunjungan koordinasi" ke Suriah akan dilakukan bulan depan.

Kerja sama ini "berpotensi berkembang di masa depan menjadi perjanjian pertahanan bersama atau bergabungnya Suriah ke dalam Aliansi Mekkah," ujar sumber tersebut.

Tentara Suriah terdiri dari gabungan berbagai kelompok—sebagian besar beraliran Islamis, termasuk jihadis asing—yang menggulingkan mantan penguasa Bashar al-Assad pada Desember 2024 setelah lebih dari satu dekade perang saudara.

Konflik tersebut telah menghancurkan ekonomi dan infrastruktur Suriah, sehingga negara itu kini sangat bergantung pada negara-negara kaya di Teluk, seperti Arab Saudi, untuk membantu mendanai biaya rekonstruksi yang sangat besar.

Pada bulan Agustus, Riyadh, Islamabad, dan Ankara menandatangani pakta pertahanan di Mekkah—kota paling suci dalam Islam—yang menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu negara dianggap sebagai serangan terhadap ketiga negara tersebut.

Pakistan dan Turki sejauh ini belum mengumumkan adanya serangan terhadap kelompok Houthi yang didukung oleh Iran.

Parlemen Mesir kemudian menyetujui permintaan Presiden Abdel Fattah al-Sisi untuk memberikan dukungan militer defensif kepada Arab Saudi "jika diminta".




Share: