Rusia Ungkap Misi Berbagi Senjata Nuklir NATO Lemahkan Traktat NPT

PM Norwegia sebelumnya mengatakan negaranya akan dilindungi oleh "payung nuklir" Prancis, tetapi senjata nuklir tidak akan ditempatkan di wilayah Norwegia pada masa damai.


Oslo, Suarathailand- Sputnik melaporkan misi pembagian senjata nuklir Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Eropa melemahkan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Hal itu diungkap Kedutaan Besar Rusia di Oslo mengomentari keputusan Norwegia bergabung dalam inisiatif penangkalan nuklir Prancis.

Perdana Menteri (PM) Norwegia Jonas Gahr Store sebelumnya mengatakan negaranya akan dilindungi oleh "payung nuklir" Prancis, tetapi senjata nuklir tidak akan ditempatkan di wilayah Norwegia pada masa damai.

"Rusia menilai interaksi semacam itu di antara negara-negara NATO sebagai sesuatu yang sangat negatif, karena dianggap sebagai 'misi nuklir bersama' yang merusak rezim NPT, keamanan di kawasan Euro-Arktik, serta stabilitas global secara lebih luas," menurut pernyataan kedutaan tersebut.

Kedutaan Rusia menambahkan kerja sama Prancis-Norwegia dalam inisiatif tersebut dapat mencakup latihan militer bersama.

Norwegia juga dapat menyediakan kekuatan konvensionalnya, terutama pesawat tempur F-35, untuk mendukung pengangkut senjata nuklir Prancis, sebagaimana telah dilakukan dalam manuver nuklir tahunan NATO yang dikenal sebagai Steadfast Noon.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Maret lalu mengumumkan pihaknya telah memasuki era "penangkalan nuklir tingkat lanjut".

Dalam pendekatan baru tersebut, Paris akan meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir, sementara negara-negara Eropa akan dapat berpartisipasi dalam latihan penangkalan bersama.

Macron menyebutkan delapan negara Eropa akan bergabung dengan "doktrin" Prancis tersebut, yakni Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.

Steadfast Noon adalah latihan militer tahunan yang rutin diselenggarakan NATO untuk menguji dan melatih kesiapan prosedur pencegahan nuklir.

Latihan militer itu murni untuk melatih kemampuan personel dan awak pesawat dalam menjalankan misi penyerangan, meskipun tidak ada senjata nuklir sungguhan yang digunakan.

Latihan tersebut melibatkan hingga belasan negara anggota NATO dengan mengerahkan puluhan jenis pesawat tempur, termasuk pesawat pembom jarak jauh seperti B-52 dan jet canggih F-35, serta pesawat tanker dan pengintai. Biasanya, latihan itu dilakukan selama dua pekan pada bulan Oktober.


Share: