PBB soroti pentingnya memerangi kejahatan terorganisasi, korupsi, kejahatan siber (cybercrime), dan terorisme demi mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Vienna, Suarathailand- Kantor berita Anadoulu melaporkan pejabat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mendesak penguatan kerja sama internasional dan sistem peradilan yang tangkas guna menghadapi ancaman kejahatan yang kian kompleks pada pembukaan Sidang ke-35 Komisi Pencegahan Kejahatan di Vienna, Senin (1/6).
Monica Juma, Direktur Eksekutif Kantor PBB urusan Obat-obatan dan Kejahatan (UNODC), menyampaikan fondasi multilateralisme saat ini sedang diuji, sementara jaringan kriminal terus beradaptasi dan berkembang.
Monica Juma menyatakan sidang Komisi Pencegahan Kejahatan dan Peradilan Pidana (CCPCJ) tetap menjadi platform esensial bagi pemerintah, praktisi, dan masyarakat sipil untuk bersinergi mengatasi tantangan tersebut.
Sementara itu, Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial PBB Lok Bahadur Thapa melalui pesan video menggarisbawahi pentingnya memerangi kejahatan terorganisasi, korupsi, kejahatan siber (cybercrime), dan terorisme demi mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Dalam sidang yang berlangsung selama lima hari ini, para delegasi dijadwalkan membahas tiga rancangan resolusi utama, yang meliputi pencegahan dan penanggulangan pemerasan seksual (sextortion) lintas negara terhadap anak, pemberantasan perdagangan orang untuk tujuan kejahatan paksa, serta penguatan upaya pencegahan kejahatan dan respons peradilan pidana guna memerangi penipuan.
Langkah-langkah yang diusulkan tersebut mencerminkan kekhawatiran global atas sifat kejahatan yang semakin digital, transnasional, dan saling terhubung. Kondisi ini menuntut pendekatan penegakan hukum yang inovatif, terkoordinasi, serta berpusat pada korban.
Sebagai badan pembuat kebijakan utama PBB dalam pencegahan kejahatan dan peradilan pidana, CCPCJ mempertemukan negara-negara anggota dan para pakar guna merumuskan respons internasional terhadap ancaman kriminal yang terus berkembang.
Sidang yang berlangsung hingga 5 Juni ini akan diisi oleh diskusi pleno, lebih dari 100 kegiatan pendukung (side events), dan 16 pameran.



