Myanmar berada dalam kekacauan sejak kudeta tahun 2021 memicu perang saudara, di mana militer bertempur melawan kelompok-kelompok bersenjata di berbagai garis depan.
Malaysia mulai mendeportasi sekitar 1.500 warga negara Myanmar pada hari Selasa sebagai bagian dari program repatriasi pengungsi, mengabaikan keberatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan puluhan kelompok hak asasi manusia.
Deportasi ini merupakan tahap pertama dari rencana yang lebih luas yang disepakati dengan Myanmar, yang berpotensi memulangkan hingga 5.000 orang.
Malaysia menyatakan program tersebut sepenuhnya bersifat sukarela, namun badan pengungsi PBB dan organisasi masyarakat sipil telah menyuarakan kekhawatiran mengenai keselamatan mereka yang dipulangkan, mengingat Myanmar masih berada dalam situasi perang saudara.
Menurut saksi mata Reuters, puluhan bus yang dikawal oleh kendaraan keamanan tiba di sebuah stadion dekat pangkalan angkatan laut Lumut di negara bagian Perak, Malaysia, pada Selasa pagi, sebelum kemudian diarahkan ke pelabuhan tempat dua kapal angkatan laut Myanmar dan sebuah kapal rumah sakit telah bersandar. Tidak diketahui secara pasti siapa saja yang berada di dalam bus-bus tersebut.
Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri membenarkan bahwa proses deportasi telah dimulai namun menolak memberikan rincian lebih lanjut, serta mengarahkan media untuk merujuk pada pernyataan kementerian tertanggal 27 Agustus.
Dalam pernyataan tersebut, kementerian menyebutkan bahwa repatriasi itu melibatkan 1.476 warga negara Myanmar yang telah diidentifikasi oleh pemerintah Myanmar.
Juru bicara pemerintah Myanmar dan kedutaan besar Myanmar di Kuala Lumpur tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Menurut laporan media pemerintah, Kementerian Luar Negeri Myanmar bulan ini menyatakan sedang bekerja sama dengan berbagai negara untuk memfasilitasi pemulangan sukarela para pengungsi yang telah diverifikasi secara aman dan bermartabat.
Kondisi di Myanmar tidak aman bagi pengungsi, menurut UNHCR
Myanmar berada dalam kekacauan sejak kudeta tahun 2021 memicu perang saudara, di mana militer bertempur melawan kelompok-kelompok bersenjata di berbagai garis depan.
UNHCR menyatakan bahwa kondisi saat ini "tidak mendukung pemulangan pengungsi asal Myanmar secara aman dan berkelanjutan" serta menegaskan bahwa pihaknya tidak dilibatkan dalam proses identifikasi orang-orang yang dipulangkan tersebut.
Malaysia telah memperketat penegakan aturan imigrasi dalam beberapa tahun terakhir di tengah meningkatnya sentimen negatif masyarakat setempat terhadap pengungsi, khususnya etnis Muslim Rohingya dari Myanmar.
Berdasarkan data UNHCR, Malaysia menampung sekitar 193.000 pengungsi asal Myanmar, dengan sekitar dua pertiganya merupakan etnis Rohingya. Gelombang ujaran kebencian dan misinformasi daring tahun ini telah memicu peningkatan pelecehan dan sorotan negatif terhadap komunitas Rohingya, termasuk penutupan sekolah secara luas.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim bulan ini menyatakan akan mengundang pemimpin militer Myanmar yang kini menjabat sebagai Presiden, Min Aung Hlaing, untuk melakukan kunjungan resmi terkait penerimaan pengungsi Rohingya.
Pada bulan Juli, Anwar mengatakan bahwa Myanmar telah setuju untuk menerima kembali hingga 5.000 pengungsi Rohingya, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran dari berbagai kelompok hak asasi manusia.
Tidak diketahui secara pasti apakah ada pengungsi Rohingya di antara mereka yang dipulangkan pada hari Selasa tersebut.
James Bawi Thang Bik, yang mewakili pengungsi dari komunitas Chin Myanmar di Malaysia, mengatakan bahwa ia mengetahui adanya beberapa pencari suaka di antara mereka yang dideportasi—termasuk seorang pemegang kartu UNHCR—berdasarkan informasi yang dihimpun oleh para tokoh masyarakat.
Berdasarkan penuturan pengungsi yang sebelumnya pernah dideportasi, mereka yang dipulangkan dapat menghadapi wajib militer paksa atau penahanan di Myanmar, ujar James.
"Kami khawatir mereka mungkin dipaksa bertempur di garis depan konflik. Bagi banyak orang, hal ini sama saja dengan menjatuhkan hukuman mati di tanah kelahiran mereka sendiri," katanya.




