"Memburuknya situasi keamanan disebabkan oleh AS dan Korsel yang berupaya mengamankan keunggulan militer mereka dengan memperluas jaringan aliansi militer dan menggelar latihan militer bersama..."
Pyongyang, Suarathailand- KCNA melaporkan Korea Utara menuduh pihak militer Korea Selatan secara sengaja memperparah situasi di sepanjang perbatasan kedua negara, sedangkan meningkatnya aktivitas militer oleh Amerika Serikat dan Korsel juga menimbulkan risiko terjadinya bentrokan bersenjata secara mendadak.
"Aktivitas militer yang sering dilakukan pihak lawan di perbatasan Korea Utara meningkatkan risiko terjadinya konflik bersenjata tak terduga dan menimbulkan konsekuensi dahsyat, karena para penjahat militer Korea Selatan dengan sengaja memperburuk ketegangan di wilayah perbatasan Korea Utara-Korea Selatan," kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Korut seperti dilaporan kantor berita milik Korut, KCNA.
Juru bicara tersebut mengatakan memburuknya situasi keamanan di wilayah tersebut disebabkan oleh AS dan Korsel yang berupaya mengamankan keunggulan militer mereka dengan memperluas jaringan aliansi militer dan menggelar latihan militer bersama dengan berbagai dalih.
Kementerian tersebut juga meyakini kegiatan militer AS dan Korsel, yang semakin menyerupai kondisi pertempuran sesungguhnya dan melancarkan serangan preventif, menimbulkan ancaman serius terhadap situasi keamanan di Korut, sehingga mengharuskan penerapan langkah-langkah penanggulangan lebih kuat.
"Setiap tindakan bermusuhan yang melanggar hak keamanan negara merupakan sasaran dari pelaksanaan hak kedaulatan yang adil oleh angkatan bersenjata Republik Demokratik Rakyat Korea," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kementerian juga menyatakan bahwa Korut tidak berniat membatasi langkah untuk mempertahankan sistem pencegahan dan memperkuat pengendalian situasi di Semenanjung Korea dan di wilayahnya.
Sebelumnya pada 21 September lalu, tiga tentara Korea Selatan terluka, dua di antaranya dalam kondisi luka serius, akibat ledakan ranjau di zona demiliterisasi.
Investigasi bersama yang dilakukan dengan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat Korsel menyimpulkan bahwa ranjau tersebut sengaja dipasang oleh pasukan Korut di sisi selatan garis demarkasi militer.
Korsel menggambarkan insiden tersebut sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata dan menuntut permintaan maaf dan tanggung jawab dari Korut.
Menanggapi hal tersebut, Kim Yo Jong, adik pimpinan Korea Utara Kim Jong Un, membantah tuduhan tersebut.



