1,9 Juta Lahan Terbakar di Indonesia, Setara dengan 12 Kali Lipat Luas Kota London

Pemerintah Indonesia belum memberikan angka resmi mengenai luas lahan yang terbakar sejak mengumumkan bahwa 202.000 hektare lahan telah hangus hingga akhir Juli.


Indonesia, Suarathailand- Lembaga pemantau yang menganalisis citra satelit pada hari Senin menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah menghanguskan lebih dari 1,9 juta hektare lahan dalam kurun waktu Januari hingga akhir September tahun ini.

Disebutkan bahwa angka tersebut—setara luas wilayah yang hampir 12 kali lipat dari luas kota London—merupakan estimasi konservatif, antara lain karena kabut asap menyulitkan proses verifikasi melalui satelit, ujar David Gaveau, pendiri situs pemantau deforestasi Nusantara Atlas.

Pemerintah Indonesia belum memberikan angka resmi mengenai luas lahan yang terbakar sejak mengumumkan bahwa 202.000 hektare lahan telah hangus hingga akhir Juli.

Gaveau menyatakan bahwa skala kebakaran yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar daripada 1.916.588 hektare yang telah terdeteksi oleh organisasinya sejauh ini.

"Estimasi luas lahan terbakar kami bersifat konservatif karena dua alasan. Pertama, kami tidak menyertakan bekas kebakaran yang luasnya kurang dari 6,25 hektare... Kedua, kami memprioritaskan untuk menghindari deteksi yang keliru," jelasnya.

Tahun ini, perhitungan tersebut juga terdampak oleh kabut asap tebal yang terkadang menghalangi citra satelit.

"Oleh karena itu, total luas lahan terbakar yang dilaporkan lebih rendah daripada luas lahan yang sebenarnya terbakar," katanya.

Meski demikian, data Nusantara Atlas menunjukkan bahwa luas lahan yang terbakar hingga akhir September tahun ini 38% lebih besar dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019.

Satelit yang digunakan oleh lembaga pemantau ini belum tersedia saat terjadi kebakaran hebat pada tahun 2015, sehingga data yang dapat dibandingkan tidak tersedia.

Namun, Gaveau memperkirakan bahwa situasi tahun ini mungkin sama buruknya.

"Intuisi saya mengatakan kondisinya mungkin sama buruknya. Jika melihat jumlah titik panas (hotspot), trennya terus meningkat," ujarnya seperti dilaporkan Bangkok Post.

Share: