Serangan dilakukan menggunakan empat rudal klaster Lockheed Martin—yang masing-masing memuat 180.000 pecahan tajam (shrapnel)—dan digunakan dalam pertempuran untuk pertama kalinya di langit Iran.
Lamard, Suarathailand- Farsnews melaporkan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyatakan bekas-bekas serangan rudal Washington di kota Lamard, wilayah selatan Iran, masih membekas pada dinding, jalanan, serta tubuh keluarga yang harus memakamkan orang-orang terkasih mereka.
Baqaei menyampaikan hal tersebut pada hari Minggu saat berkunjung ke Lamard, seraya menyatakan bahwa kota itu masih menyimpan "jejak dan tanda yang nyata" dari kejahatan perang Amerika.
Serangan itu, ujarnya, dilakukan menggunakan empat rudal klaster Lockheed Martin—yang masing-masing memuat 180.000 pecahan tajam (shrapnel)—dan digunakan dalam pertempuran untuk pertama kalinya di langit Iran.
Dua puluh orang warga Lamard dan seorang tamu asal Afghanistan gugur akibat ledakan tersebut, tambahnya.
Setibanya di kota itu, sang juru bicara memberikan penghormatan di makam mereka di Taman Syuhada Lamard. Malam harinya, di alun-alun kota, ia bersama warga setempat melantunkan nama-nama dari apa yang ia sebut sebagai "23 nama agung" yang kini telah ditambahkan ke dalam daftar syuhada bangsa dalam perjuangan meraih kemerdekaan dan martabat.
"Nama-nama ini, bersama dengan begitu banyak syuhada lainnya, kini menjadi bagian dari warisan abadi bangsa Iran serta landasan bagi kekuatan dan persatuan nasional kita," ujar Baqaei.
Baqaei menyebutkan 80 warga lainnya terluka akibat pecahan rudal. Enam bulan berselang, sejumlah anak laki-laki dan perempuan di Lamard beserta keluarga mereka masih hidup dengan disabilitas dan rasa sakit yang hebat. Butiran tungsten dari Rudal Serangan Presisi (PrSM) AS masih tertanam di tubuh beberapa anak, tambahnya.
Juru bicara tersebut menyebut serangan itu sebagai eksperimen yang sengaja dilakukan terhadap warga sipil oleh pihak agresor yang mengklaim diri sebagai pembela hak asasi manusia.
Ia mengatakan Iran akan mengumpulkan kesaksian, rekam medis, dan bukti fisik untuk digunakan dalam forum internasional guna menuntut pihak-pihak yang memerintahkan, meluncurkan, dan memfasilitasi serangan tersebut.
"Dokumentasi bukan sekadar mencatat masa lalu; ini adalah upaya menitipkan kebenaran pada bukti, sebelum debu distorsi dan kelupaan menyelimutinya," tambahnya.
Baqaei menegaskan bahwa setiap kisah gugurnya para syuhada di Lamard harus diceritakan, setiap kesaksian harus didengar, dan setiap luka harus dicatat. Luka akibat kejahatan semacam itu, ujarnya, tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Peristiwa ini harus terus diingat sebagai bukti dan tuntutan akan keadilan, serta menjadi aib abadi bagi mereka yang berusaha menutupi kekalahan sendiri dengan menyerang kota yang dihuni warga sipil.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada tanggal 28 Februari, yang ditandai dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi, komandan militer, dan ribuan warga sipil.
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan 100 gelombang serangan balasan selama 40 hari yang menyasar aset-aset militer AS dan Israel, sehingga menimbulkan kerusakan yang signifikan.



