Para pejabat Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan dapat mencapai apa pun melalui tekanan ekonomi, sembari menegaskan bahwa Teheran akan terus bersikap teguh menghadapi Washington.
Teheran, Suarathailand- Fars News Agency (FNA) melaporkan pendapatan minyak senilai lebih dari US$1 miliar (sekitar Rp17,6 triliun) masuk ke Iran selama 11 hari pertama periode yang berakhir pada awal September.
FNA menyatakan bahwa valuta asing yang berasal dari sektor minyak telah ditambahkan ke dalam cadangan devisa negara selama periode tersebut.
Laporan itu menambahkan bahwa tambahan dana tersebut akan meningkatkan kemampuan Bank Sentral dalam memenuhi kebutuhan valuta asing negara.
Angka-angka terbaru ini menyusul data serupa yang dirilis oleh Kementerian Perminyakan Iran pada akhir Agustus, yang menunjukkan bahwa valuta asing senilai US$7,5 miliar—yang diperoleh dari penjualan minyak selama empat bulan pertama tahun fiskal (dari 21 Maret hingga 22 Juli)—telah ditransfer ke Bank Sentral.
Angka-angka tersebut muncul di tengah langkah Washington yang semakin meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Para pejabat Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan dapat mencapai apa pun melalui tekanan ekonomi, sembari menegaskan bahwa Teheran akan terus bersikap teguh menghadapi Washington.
Teheran mencemooh langkah-langkah terbaru Washington terhadap Iran, dengan menekankan bahwa kebijakan tersebut justru memperlihatkan kelemahan Gedung Putih dalam upayanya membangun koalisi anti-Teheran.
FNA juga mencatat bahwa penjualan minyak Iran selama lima bulan pertama tahun fiskal berjalan telah menghasilkan pendapatan yang setara dengan lebih dari 80% dari proyeksi pendapatan minyak dalam anggaran Iran tahun 2026-2027, yang berlaku mulai 21 Maret 2026 hingga 20 Maret 2027.



