Kesepakatan trilateral tersebut dapat dipandang sebagai indikasi adanya pergeseran cara pandang negara-negara di kawasan ini terhadap keamanan.
Teheran, Suarathailand- Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa Teheran memandang Kesepakatan Pertahanan Bersama Mekkah antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki sebagai tanda perubahan persepsi di kalangan negara-negara kawasan.
Baqaei menekankan negara-negara tersebut telah menyadari bahwa keamanan dan stabilitas tidak dapat dicapai dengan mengandalkan kekuatan dari luar kawasan.
Ketika ditanya oleh seorang jurnalis apakah kesepakatan pertahanan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan itu merupakan "NATO versi Islam", Baqaei menjawab, "Kami tidak membutuhkan kekuatan luar mana pun untuk campur tangan di kawasan kami."
"Ketegangan [di kawasan] masih ada... namun melalui kerja sama dengan negara-negara di kawasan ini, kami berharap semua negara dapat memetik pelajaran untuk mencermati perkembangan beberapa tahun terakhir dengan baik dan berupaya keras memperkuat keamanan kolektif kawasan kita," tambahnya.
Kesepakatan trilateral tersebut dapat dipandang sebagai indikasi adanya pergeseran cara pandang negara-negara di kawasan ini terhadap keamanan.
Ketiga negara menandatangani Kesepakatan Pertahanan Bersama Mekkah pada hari Jumat, dengan komitmen bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari mereka akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.
Pakta ini digambarkan sebagai upaya untuk memperkuat "pencegahan kolektif" serta memperluas koordinasi militer dan kerja sama industri pertahanan.
Baqaei mengatakan bahwa negara-negara kawasan—terutama sejak dimulainya perang Gaza—semakin menyadari sumber ancaman terbesar bagi stabilitas dan keamanan di kawasan tersebut maupun di luar kawasan.
Diplomat Iran tersebut juga menyatakan bahwa AS sendiri telah berkontribusi terhadap ketidakamanan dan ketidakstabilan di kawasan itu.



