Iran Peringatkan AS dan Israel Soal Korban Jiwa yang Besar Jika Terjadi Perang Baru

"Jika Amerika Serikat atau Israel membuat ancaman sekecil apa pun terhadap Iran, perang berikutnya tidak akan menyerupai perang sebelumnya."


Teheran, Suarathailand- Kantor berita Fars melaporkan seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei memperingatkan setiap serangan militer baru yang dilakukan oleh Washington atau rezim Zionis terhadap Teheran akan mengakibatkan banyak korban jiwa.

Iran telah mengembangkan kemampuan militer baru yang akan dikerahkan jika terjadi perang lagi, kata Mohsen Rezaei, anggota Dewan Kebijakan Iran, kepada jaringan televisi NewsNation pada hari Sabtu.

"Jika Amerika Serikat atau Israel membuat ancaman sekecil apa pun terhadap Iran, perang berikutnya tidak akan menyerupai perang sebelumnya," katanya.

"Presiden [AS] Donald Trump harus tahu bahwa kali ini mereka akan menderita kerugian manusia yang besar," tambah mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari, membunuh Ayatollah Seyed Ali Khamenei dan beberapa komandan serta pejabat militer. Kedua rezim tersebut juga menyerang fasilitas nuklir, situs sipil, sekolah, dan rumah sakit di seluruh negeri yang menyebabkan ribuan warga sipil gugur.

Angkatan Bersenjata Iran menanggapi dengan 100 gelombang operasi pembalasan di bawah Operasi Janji Sejati 4, menembakkan ratusan rudal balistik dan hipersonik, serta drone, terhadap pangkalan militer Amerika di seluruh Asia Barat dan posisi Israel di seluruh wilayah pendudukan.

Sebuah dokumen 14 poin, yang ditandatangani dari jarak jauh oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump, pada pertengahan Juli menetapkan pengakhiran permanen permusuhan di semua lini. Kesepakatan akhir akan dinegosiasikan dalam waktu 60 hari.

Menguraikan syarat-syarat Teheran untuk kesepakatan yang berkelanjutan, Rezaei mengatakan Washington harus terlebih dahulu mengakui hak-hak sah Iran berdasarkan hukum internasional, termasuk kegiatan nuklir damainya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Ia juga menyerukan pencabutan sanksi AS, pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, dan pengakuan peran Iran dalam mengelola Selat Hormuz.

"Selat Hormuz tidak ada hubungannya dengan Amerika Serikat," tambahnya, seraya menyatakan bahwa pengelolaannya adalah urusan Iran dan Oman.

Penasihat senior itu melanjutkan dengan mengatakan bahwa Iran telah menjaga jalur air strategis tersebut selama beberapa dekade dan bahwa negara-negara yang mendapat manfaat dari lalu lintas maritim harus berkontribusi pada biaya keamanan dan perlindungan lingkungannya.

Share: