“Kami tidak memulai perang ini dan rakyat kami tidak menerima bahwa negara mereka telah diserang dua kali dalam sembilan bulan sementara mereka telah berkomitmen pada diplomasi,” kata Baghaei.
Teheran, Suarathailand- Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan Republik Islam akan terus berperang melawan Amerika Serikat dan Israel sampai dipastikan tidak akan ada agresi semacam itu lagi yang akan terjadi pada negara tersebut.
“Kami tidak memulai perang ini dan rakyat kami tidak menerima bahwa negara mereka telah diserang dua kali dalam sembilan bulan sementara mereka telah berkomitmen pada diplomasi,” kata Baghaei dalam konferensi pers mingguan pada hari Senin.
Ia menambahkan bahwa bangsa Iran tidak menerima bahwa “dua entitas jahat” memaksakan perang pada negara tersebut dan kemudian mengambil “isyarat gencatan senjata” ketika mereka menghadapi masalah.
Ia menegaskan kembali bahwa bangsa Iran dan angkatan bersenjatanya bertekad untuk “melanjutkan perang ini selama diperlukan dengan pembelaan epik mereka untuk Iran.”
Iran hanya fokus pada pertahanan saat ini
Menanggapi pertanyaan tentang konsultasi Rusia dengan Iran dan AS, Baghaei mengatakan bahwa masalah berbagai pihak yang berhubungan dengan Iran dan kemudian mengadakan pembicaraan dengan pihak lain tidak ada hubungannya dengan Republik Islam.
Iran saat ini berkonsentrasi pada pertahanan karena negara itu diserang secara brutal selama negosiasi, katanya. “Jadi, bisakah kita fokus pada hal lain selain pertahanan?” tanyanya.
Iran terlibat dalam perang skala penuh dengan Israel dan AS
Ditanya apakah Iran siap untuk mediasi apa pun untuk meredakan ketegangan, juru bicara itu mengatakan, “Istilah de-eskalasi bukanlah istilah yang tepat karena kami terlibat dalam perang skala penuh dan sedang membela diri.”
Baghaei sekali lagi menekankan bahwa Iran akan terus mempraktikkan hak membela diri sampai para pengambil keputusan dan angkatan bersenjata negara itu menganggapnya perlu.
AS dan rezim Israel melancarkan agresi militer gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, sekitar delapan bulan setelah mereka menyerang negara itu pada Juni tahun lalu. Kedua serangan itu terjadi ketika Teheran diserang di tengah pembicaraan diplomatik dengan Washington mengenai program nuklir damainya.
Angkatan bersenjata Iran telah melakukan serangan balasan terhadap aset militer AS di negara-negara regional dan terhadap target di wilayah pendudukan Israel.



