Beijing, Suarathailand- Xinhua melaporkan Pemerintah Beijing, China, pada Selasa mengaktifkan respons darurat pengendalian banjir Level II, level kedua tertinggi, seiring otoritas memperingatkan perihal hujan lebat serta meningkatnya risiko genangan air di perkotaan dan tanah longsor.
Diperkirkan sebagian besar Beijing akan mengalami curah hujan lebih dari 100 milimeter dalam enam jam dan lebih dari 150 milimeter dalam 24 jam mulai Selasa malam hingga Kamis (13/8), menurut layanan meteorologi Beijing.
Dilaporkan bahwa Beijing mengeluarkan peringatan oranye untuk hujan badai pada Senin (10/8) pukul 10.00 pagi, sementara sejumlah distrik, termasuk Fangshan, Daxing, dan Tongzhou, menerbitkan peringatan merah yang merupakan level tertinggi.
Warga di daerah berisiko tinggi akan dievakuasi hingga Selasa malam waktu setempat. Pekerjaan konstruksi akan ditangguhkan, dan perkemahan di kawasan pegunungan dan objek wisata akan ditutup.
Para pemberi kerja didorong untuk mengadopsi jam kerja fleksibel atau jadwal kerja bergiliran. Sekolah dapat menangguhkan kegiatan belajar dan pelatihan tatap muka sesuai dengan kondisi, sementara kegiatan olahraga luar ruangan yang terorganisasi akan dihentikan sementara.
Otoritas drainase Beijing telah menyiagakan 252 tim pengendalian banjir. Berbagai persiapan, termasuk pemasangan penghalang banjir, juga telah ditingkatkan di 368 stasiun kereta bawah tanah, 33 kompleks rumah sakit, dan 17 fasilitas perawatan lansia.
Di Fangshan, di mana hujan sangat lebat diprediksi akan terjadi, pihak otoritas sudah mulai mengevakuasi warga dari area rawan bencana menjelang datangnya hujan lebat, serta mengerahkan tim penyelamatan darurat dan pasokan, dengan lebih dari 150.000 unit perlengkapan dan material darurat disiagakan.
Topan Dolphin, topan ke-13 tahun ini, mendarat di dua lokasi di Provinsi Zhejiang pada Minggu (9/8). Pusat Meteorologi Nasional pada Selasa mempertahankan peringatan oranye untuk hujan badai, memperkirakan hujan deras di banyak wilayah di negara tersebut hingga Rabu sore waktu setempat, termasuk Zhejiang, Shanghai, Shandong, Beijing, dan Tianjin.
Hingga Senin pukul 07.00 pagi waktu setempat, sekitar 167.900 warga telah dievakuasi dari area-area rentan di daratan maupun laut di Provinsi Fujian. Sementara itu, hingga Minggu malam, Shanghai telah mengevakuasi sekitar 215.600 orang dari area-area yang dinilai berisiko.



