Sejauh ini, lebih dari 3.700 orang telah diselamatkan di Nepal.
Nepal, Suarathailand- Upaya penyelamatan korban banjir di Nepal semakin intensif seiring meningkatnya jumlah korban tewas, sementara lebih dari 2.000 orang masih dinyatakan hilang.
Kathmandu, Nepal — Tim penyelamat mengevakuasi para penyintas yang tubuhnya berlumuran lumpur cokelat tua dan helikopter mengangkut warga yang terjebak ke tempat aman pada hari Jumat.

Nepal dan Tiongkok berpacu dengan waktu untuk merespons bencana banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang menewaskan hampir 600 orang dan menyebabkan sekitar 2.500 orang hilang.
Otoritas Nepal dan Tiongkok memperingatkan adanya risiko banjir susulan akibat terbentuknya danau baru di bagian hulu pascabencana hari Rabu, serta mengimbau warga di wilayah yang berpotensi terdampak untuk pindah ke tempat yang lebih aman.
Sejauh ini, lebih dari 3.700 orang telah diselamatkan di Nepal, namun menurut pihak berwenang, 1.924 orang masih belum diketahui keberadaannya di negara tersebut. Sebelumnya, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa 558 orang dinyatakan hilang di wilayah Tiongkok.
Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal menyatakan pada hari Jumat bahwa jumlah korban tewas yang terkonfirmasi telah meningkat menjadi 579 orang.
Media lokal Nepal menyebutkan bahwa jumlah orang yang belum diketahui keberadaannya bisa mencapai 12.000 jiwa, namun angka yang jauh lebih tinggi tersebut belum dikonfirmasi oleh pejabat mana pun.
Ratusan orang yang hilang merupakan warga negara asing yang berada di wilayah tersebut untuk bekerja, melakukan pendakian, atau berziarah ke puncak suci di sisi perbatasan wilayah Tibet.
Personel Angkatan Darat Nepal membawa jenazah korban selama operasi penyelamatan dan pemulihan pascabanjir bandang di kamp Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, 28 Agustus 2026.
Helikopter telah mengevakuasi lebih dari 3.000 orang ke tempat aman di Kathmandu dan lokasi lainnya. Di sisi Tiongkok, informasi mengenai para penyintas masih minim, meskipun jumlah korban tewas meningkat menjadi lima orang pada hari Jumat, sementara media pemerintah menayangkan proses evakuasi desa serta upaya para pemimpin dalam mengarahkan bantuan.
Palang Merah menyatakan pada hari Jumat bahwa sekitar 90.000 orang kemungkinan terdampak banjir, yang diyakini dipicu oleh runtuhnya tebing batu beserta sebagian besar gletser yang ditopangnya.
Kepolisian Nepal mengeluarkan peringatan baru pada hari Jumat setelah menerima informasi bahwa air di sebuah bendungan di sisi perbatasan Tibet telah meluap. Petugas keamanan serta tim penyelamat dan bantuan diperintahkan untuk tetap siaga tinggi dan segera berpindah ke lokasi aman jika diperlukan.
Belum jelas apakah kekhawatiran tersebut terkait dengan risiko banjir akibat luapan danau penghalang yang terbentuk di balik bendungan alami—yang tercipta dari material sisa banjir bandang awal—di wilayah pegunungan Himalaya sisi Tiongkok.
Juru bicara kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, mengatakan bahwa operasi penyelamatan "tidak berhenti" dan terus berlanjut dalam kondisi siaga tinggi.
Meskipun penyiar negara Tiongkok, CCTV, melaporkan pada hari Jumat bahwa danau tersebut berjarak lebih dari 6 mil (sekitar 9,6 km) dari Pelabuhan Gyirong—titik perbatasan dengan Nepal yang hancur diterjang dinding lumpur dan air pada Rabu pagi—pihaknya menyatakan risiko banjir tetap tinggi. Disebutkan bahwa danau tersebut berada pada ketinggian 9.680 kaki (sekitar 2.950 meter), atau sekitar 3.280 kaki (1.000 meter) di atas Pelabuhan Gyirong.
CCTV kemudian menyatakan bahwa risiko banjir akibat luapan danau tersebut dinilai "dapat ditangani," demikian dilaporkan Reuters.
Petugas pemadam kebakaran melakukan operasi pencarian dan penyelamatan setelah peristiwa tanah longsor di wilayah Gyirong.
Tampilan drone yang memperlihatkan petugas pemadam kebakaran sedang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan pada 28 Agustus 2026 di jalan rusak menuju Pelabuhan Gyirong, setelah terjadi tanah longsor di Daerah Otonom Tibet, Tiongkok.
Tim penyelamat dari Angkatan Darat Nepal berupaya membantu orang-orang yang terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Rasuwa, yang merupakan bagian dari Proyek PLTA Upper Trishuli-1.
Dalam rekaman video dari lokasi kejadian, tim penyelamat tampak menarik sekaligus mendorong seorang pria yang sekujur tubuhnya berlumuran lumpur cokelat tua keluar dari terowongan. Pria itu adalah salah satu dari puluhan orang yang diperkirakan terjebak di dalamnya.
Juru bicara Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, mengatakan kepada The Associated Press bahwa fokus utama saat ini adalah pada para penyintas.
"Sulit untuk menemukan titik masuk dan keluar terowongan karena semuanya tertutup lumpur," ujar Basnet. "Prioritas utama kami adalah menyelamatkan orang-orang yang terjebak."
Apa Penyebab Banjir Bandang?
Para ilmuwan menyatakan bahwa citra satelit menunjukkan adanya keruntuhan batuan dasar di bawah gletser di wilayah pegunungan Himalaya yang tinggi, yang turut menyeret sebagian massa gletser bersamanya.
Peristiwa runtuhan batuan tersebut sangat dahsyat hingga tercatat sebagai aktivitas seismik berkekuatan magnitudo 5,2. Material batuan dan air lelehan tiba-tiba memicu lonjakan debit sungai di lembah-lembah di bawahnya, menciptakan aliran air deras yang menyapu bangunan, jembatan, dan tanah ke arah hilir di wilayah Tibet dan Nepal.
Para ilmuwan masih menyusun informasi dari data satelit dan pengamatan lapangan untuk memastikan penyebab pasti banjir tersebut, namun Jakob Steiner—seorang ahli geosains dari Universitas Graz di Austria yang saat ini berbasis di Bangladesh—menyatakan bahwa "bagian bawah gletser benar-benar telah terlepas".
Ia merujuk pada citra satelit yang menurutnya memperlihatkan kondisi seolah-olah "ada seseorang yang memotong seluruh bagian bawah" massa batuan dan es tersebut menggunakan pisau raksasa. cbsnewa



