FAO Sebut Cuaca Ekstrem dan Perang Timteng dan Ukraina Dorong Kenaikan Harga Pangan Dunia

Harga gandum melonjak 15% dibandingkan tahun lalu, sebagian disebabkan oleh "gangguan berkelanjutan pada logistik ekspor Laut Hitam" yang terkait dengan invasi Rusia ke Ukraina, ungkap FAO.


FAO, Suarathailand- Farsnews melaporkan penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan berdampak besar terhadap ketersediaan pupuk global.

Inflasi harga pangan meningkat pada bulan Agustus akibat dampak kekeringan dan konflik terhadap pasar komoditas, dengan harga gula mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari setahun, menurut data PBB yang dirilis pada hari Jumat.

Indeks harga pangan yang disusun oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) naik sebesar 1,9% pada bulan Agustus dibandingkan bulan Juli, dan naik 2,5% dibandingkan tingkat pada bulan Agustus 2025.

Angka tersebut menunjukkan percepatan dibandingkan bulan Juli, saat harga naik 0,6% secara bulanan dan satu persen secara tahunan.

Eropa dilanda suhu panas ekstrem pada musim panas ini yang menyebabkan penurunan hasil panen, sementara fenomena iklim El Nino mengancam produksi di Asia.

Akibatnya, harga gula melonjak 11,9%, mencapai tingkat tertinggi sejak Juni 2025.

Harga gandum melonjak 15% dibandingkan tahun lalu, sebagian disebabkan oleh "gangguan berkelanjutan pada logistik ekspor Laut Hitam" yang terkait dengan invasi Rusia ke Ukraina, ungkap FAO.

FAO juga mencatat bahwa "kekhawatiran mengenai pasokan input akibat penutupan Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga jagung", yang naik sebesar 2,5%.

Penutupan Selat Hormuz akibat perang di Timur Tengah telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar sekaligus memutus akses ke sumber utama pasokan pupuk, sehingga memperparah kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan dan kenaikan harga dalam jangka panjang.

Share: