Densus 88 menangkap 658 teroris dalam dua tahun terakhir.
Kepala Densus 88 Antiteror Polri Inspektur Jenderal Marthinus Hukom mengatakan ingin mengedepankan pendekatan yang lebih lunak terhadap para pelaku terorisme.
Marthinus menilai para pelaku tersebut bukan hanya sebagai pelaku tindakan kekerasan, tetapi juga korban. Hal itu diucapkan Marthinus Setelah rapat dengan Komisi Hukum DPR di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Senin, 21 Maret 2022.
Marthinus mengatakan pelaku teror melakukan kekerasan karena hanya menerima satu doktrin.
Oleh karena itu, Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ingin mengintervensi pemikiran itu dengan cara melibatkan tokoh agama dengan bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Tokoh agama diharapkan dapat memberikan perspektif lain untuk pelaku teror.
Marthinus mengatakan saat ini pihaknya telah melakukan pembinaan terhadap 120 orang anggota jaringan Jemaah Islamiyah. Mereka dibiarkan bebas sambil dibina.
Menurut dia, Densus sudah tahu keberadaan dan keterlibatan jaringan itu. Namun, mereka berkomunikasi dengan Densus dan meminta untuk dibina.
Menurut Marthinus, paradigma Densus itu bahkan terlihat dalam cara menangkap pelaku teror. Dia mengatakan Densus menghindari menangkap di rumah. Sebab, rumah adalah basis terkuat teroris untuk melakukan penyerangan.
Sebelumnya Marthinus menyatakan Densus 88 menangkap 658 teroris dalam dua tahun terakhir. Masifnya penangkapan tersebut, menurut dia, membuat kejadian terorisme di Indonesia terus berkurang. (antara, tempo)




