Bangkok Bisa Belajar dari Belanda dalam Penanganan Banjir Lewat 2 Cara

Pengelolaan banjir di Belanda ditangani sebagai sistem nasional yang berkelanjutan dan terintegrasi, yang memadukan infrastruktur, perencanaan tata guna lahan, prakiraan cuaca, serta pemeliharaan rutin dalam kerangka kerja sama yang melibatkan seluruh tingkatan pemerintahan.


Bangkok, Suarathailand- Belanda melindungi masyarakat di wilayah dataran rendah melalui dua cara yang saling melengkapi: menahan lonjakan air laut yang berbahaya dan memberikan ruang lebih luas bagi sungai yang meluap. 

Belanda menerapkan strategi ganda yang memadukan proyek rekayasa berskala besar—seperti *Delta Works* yang berfungsi menahan lonjakan air laut—dengan program "Room for the River" (Ruang untuk Sungai), yang menyediakan ruang untuk menampung luapan air sungai.

Alih-alih hanya membangun tanggul yang lebih tinggi, pendekatan "Room for the River" melibatkan pemindahan garis pertahanan ke arah daratan, penurunan elevasi dataran banjir, dan penyediaan area khusus untuk menyerap kelebihan air, sehingga mengurangi tekanan terhadap masyarakat.

Pengelolaan banjir ditangani sebagai sistem nasional yang berkelanjutan dan terintegrasi, yang memadukan infrastruktur, perencanaan tata guna lahan, prakiraan cuaca, serta pemeliharaan rutin dalam kerangka kerja sama yang melibatkan seluruh tingkatan pemerintahan.

Belanda melindungi masyarakat di wilayah dataran rendah melalui dua cara yang saling melengkapi: menahan lonjakan air laut yang berbahaya dan memberikan ruang lebih luas bagi sungai yang meluap. 

Dalam perdebatan mengenai banjir di Bangkok, contoh dari Belanda ini tidak hanya menyoroti aspek ketinggian penghalang air, tetapi juga bagaimana air, lahan, dan infrastruktur dikelola secara bersama-sama.

Dalam sebuah peringatan mengenai risiko banjir Bangkok yang disampaikan pada awal Juli, Prof. Dr. Suchatvee Suwansawat—pemimpin Partai Thai Kao Mai—menulis di halaman Facebook pribadinya: 

"Bangkok dipastikan satu juta persen akan tenggelam di bawah permukaan laut jika pengelolaan air terus dilakukan dengan cara yang sama." 

Peringatan Suchatvee tersebut didasarkan pada data dan pandangan dari berbagai ahli yang memiliki penilaian serupa.

Pengalaman Belanda memberikan perbandingan praktis bagi perdebatan tersebut. Sebagian besar wilayah Belanda terletak di delta sungai dengan area luas yang berada di bawah permukaan laut; namun, berkat pengelolaan air yang telah berlangsung selama berabad-abad, kota-kota, kegiatan ekonomi, dan infrastruktur dapat terus berkembang berdampingan dengan air. 

Perlindungan terhadap banjir telah berkembang melalui kombinasi antara proyek rekayasa berskala besar dan penyesuaian ruang yang tersedia bagi sungai.

*Delta Works* melindungi lahan yang berada di bawah permukaan laut

Menurut Rijkswaterstaat—otoritas infrastruktur dan pengelolaan air Belanda—sekitar 60% wilayah Belanda akan berisiko mengalami banjir tanpa adanya sistem perlindungan. 

Wilayah-wilayah yang rentan tersebut mencakup pusat-pusat populasi yang besar serta lahan yang bernilai ekonomi tinggi, sehingga menjadikan perlindungan banjir sebagai isu kepentingan nasional, bukan sekadar tugas yang dibebankan kepada masing-masing kota pesisir. 

Di Krimpen aan den IJssel, Hollandsche IJsselkering (penghalang badai Hollandsche IJssel) turut melindungi sebagian wilayah dengan elevasi terendah di negara tersebut, yang mencapai sekitar 6,76 meter di bawah *Normaal Amsterdams Peil* (NAP)—tingkat acuan Belanda untuk pengukuran ketinggian. 

Penghalang ini merupakan bagian dari Delta Works, sebuah jaringan luas yang dibangun untuk melindungi wilayah-wilayah rentan dari ancaman laut.

Titik baliknya terjadi saat banjir Laut Utara tahun 1953. Badai hebat dan permukaan air yang sangat tinggi menjebol tanggul, sehingga air laut membanjiri wilayah pesisir. Bencana tersebut menewaskan 1.836 orang dan menggenangi sekitar 150.000 hektare lahan, yang mendorong pemerintah Belanda untuk mempercepat pembangunan Delta Works.

Delta Works memadukan bendungan, penghalang lonjakan badai, dan berbagai struktur pengendalian air lainnya. Salah satu yang paling menonjol adalah Maeslant Barrier di dekat Rotterdam; penghalang ini memiliki dua pintu yang masing-masing lebarnya 210 meter dan tingginya 22 meter. 

Pintu-pintu tersebut menutup secara otomatis ketika prakiraan menunjukkan bahwa ketinggian air akan mencapai ambang batas tertentu; struktur ini dirancang untuk menahan lonjakan badai hingga lima meter di atas NAP.


Program *Room for the River* melampaui sekadar meninggikan tanggul

Respons Belanda terhadap banjir sungai berkembang melalui jalur yang berbeda namun saling melengkapi. Ketinggian air sungai yang luar biasa pada tahun 1993 dan 1995 menyingkap keterbatasan jika terus-menerus mengandalkan tanggul yang lebih tinggi. Hal ini turut melahirkan prinsip di balik program *Room for the River* (Ruang untuk Sungai): perlindungan banjir juga memerlukan ruang bagi kelebihan air.

Melalui program *Room for the River*, tanggul digeser lebih jauh ke arah daratan, area penampungan air sungai diperluas, saluran baru digali, dan dataran banjir (*floodplain*) diturunkan elevasinya. Area-area tertentu juga disesuaikan untuk menampung air saat permukaan sungai naik, sehingga tercipta jalur dan ruang bagi aliran air yang jika tidak dikelola demikian dapat mengancam permukiman di sekitarnya.

Rijkswaterstaat menyatakan bahwa program ini mencakup 39 proyek di 34 lokasi di sepanjang sungai-sungai utama, termasuk Sungai IJssel, Waal, Nederrijn, dan Lek. Peningkatan kapasitas penampungan air dilakukan bersamaan dengan perbaikan lanskap dan ekosistem, sehingga upaya perlindungan banjir terintegrasi dengan cara penggunaan dan pengelolaan lahan.


Noordwaard menciptakan ruang untuk naiknya air sungai

Proyek Noordwaard menerapkan pendekatan Room for the River di lahan seluas 4.450 hektar. Dirancang untuk mengakomodasi permukaan sungai yang lebih tinggi, kawasan ini menggabungkan ruang untuk air banjir dengan stasiun pompa, struktur hidrolik, dan banyak jembatan. Rijkswaterstaat

Ketika air sungai mencapai tingkat yang telah ditentukan, air dapat masuk ke Noordwaard dan mengalir melalui area yang ditentukan, membantu mengurangi tingkat dan tekanan air di tempat lain. Proyek ini juga menciptakan ruang bagi alam, dengan pengelolaan banjir dan peningkatan keanekaragaman hayati yang membentuk bagian dari lanskap yang sama. Rijkswaterstaat

Perlindungan banjir Belanda terus berlanjut melampaui masa konstruksi

Sistem pengelolaan air di Belanda tidak hanya bergantung pada bendungan atau penghalang saja. Tanggul, pertahanan gelombang badai, kanal, kawasan yang menampung air banjir, stasiun pompa, prakiraan cuaca, dan perencanaan penggunaan lahan beroperasi sebagai bagian-bagian yang terhubung dari sistem yang lebih luas. 

Pertahanan memerlukan pemantauan dan pemeliharaan, sementara prakiraan membantu pihak berwenang bersiap menghadapi perubahan kondisi.

Program Delta Nasional memberikan kerangka kerja sama antara pemerintah pusat, provinsi, pemerintah daerah, dan badan air. Program ini mengatasi risiko banjir, kekurangan air bersih dan dampak cuaca yang lebih ekstrem, menjadikan pengelolaan air sebagai tanggung jawab nasional bersama dan bukan masalah yang menjadi tanggung jawab satu kota atau lembaga.

Oleh karena itu pengelolaan air di Belanda menggabungkan konstruksi dengan investasi berkelanjutan, pemeliharaan, pengujian dan penyesuaian. Meningkatnya permukaan air laut, curah hujan yang tinggi, dan perubahan aliran sungai menunjukkan bahwa penyelesaian infrastruktur tidak mengakhiri upaya perlindungan terhadap banjir.

Belanda melanjutkan upaya tersebut melalui Room for the River 2.0, dengan mengembangkan langkah-langkah untuk aliran sungai yang tinggi dan rendah karena perubahan iklim meningkatkan tekanan pada sistem air. 

Program ini meneruskan prinsip bahwa melindungi masyarakat tidak hanya mencakup pengendalian air, namun juga perencanaan ke mana air tersebut dapat disalurkan dengan aman. TheNation

Share: