Para ahli keamanan siber menyatakan bahwa kerentanan Pentagon terhadap serangan siber berbasis AI merupakan masalah keamanan nasional yang mendesak, karena pihak lawan kini memiliki alat yang lebih canggih untuk mengeksploitasi kelemahan dalam jaringan militer AS.
AS, Suarathailand- Washington Post melaporkan seorang jenderal siber senior menyatakan instansi Pentagon mengalami peningkatan kerentanan keamanan siber hingga "sepuluh kali lipat" di tengah maraknya penggunaan AI.
Washington Post menyebut Kecerdasan buatan (AI) meningkatkan risiko keamanan siber yang dihadapi jaringan komputer Pentagon yang sudah tua, karena alat-alat yang semakin canggih memungkinkan pihak lawan untuk mengidentifikasi dan menggabungkan berbagai kelemahan dalam sistem pertahanan AS dengan lebih cepat.
Letnan Jenderal Paul Stanton, pejabat tinggi pertahanan siber Pentagon sekaligus kepala komando pertahanan siber Angkatan Darat, mengatakan bahwa Departemen Pertahanan telah mengalami peningkatan kerentanan keamanan siber hingga "sepuluh kali lipat" seiring dengan berkembangnya AI.
"Kita telah menunda-nunda pemeliharaan dan perawatan sistem kita yang berpotensi membahayakan kita sendiri," ujar Stanton pekan lalu dalam sebuah konferensi di Washington, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut. "Hal itu tidak boleh terjadi lagi."
Pernyataan ini muncul di tengah perdebatan yang semakin sengit di Washington mengenai risiko kecerdasan buatan, menyusul pengunduran diri peneliti Anthropic, Jacob Coxon, yang memperingatkan bahwa teknologi tersebut dapat "membunuh kita semua pada akhir dekade mendatang."
Para ahli keamanan siber menyatakan bahwa kerentanan Pentagon terhadap serangan siber berbasis AI merupakan masalah keamanan nasional yang mendesak, karena pihak lawan kini memiliki alat yang lebih canggih untuk mengeksploitasi kelemahan dalam jaringan militer AS.
Mereka memperingatkan bahwa penundaan pemeliharaan selama bertahun-tahun dan infrastruktur yang ketinggalan zaman dapat membuat sistem Departemen Pertahanan semakin rentan, sementara upaya peningkatan jaringan tersebut bisa memakan waktu bertahun-tahun di tengah pesatnya kemajuan kemampuan AI.
"Ini telah menjadi prioritas yang cukup mendesak," ujar Michael C. Horowitz, direktur program pertahanan dan keamanan nasional di Council on Foreign Relations, sebagaimana dikutip oleh surat kabar tersebut. "Risikonya adalah pihak lawan mendapatkan kemampuan lebih besar untuk mengganggu jaringan informasi AS guna mengakses data militer Amerika, sehingga membahayakan keamanan nasional."




