Ngeri, 434 Ribu Hektare Lahan Hangus Terbakar di Eropa pada Tahun Ini

Uni Eropa (UE) pada Rabu (29/7) memperingatkan bahwa krisis karhutla sedang bergeser ke arah timur, dengan Yunani dan Italia diperkirakan akan menghadapi bahaya yang semakin besar.


Eropa, Suarathailand- AFP melaporkan lebih dari 434.000 hektare lahan di seluruh Eropa telah hangus terbakar pada tahun ini, berdasarkan data terbaru yang tersedia, ungkap Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Eropa (United Nations Economic Commission for Europe/UNECE) pada Kamis (30/7).

Dilaporkan bahwa kebakaran dahsyat di wilayah Gironde, Prancis, menghancurkan sekitar 42.000 hektare hutan pinus dan memaksa evakuasi puluhan ribu penduduk dan wisatawan.

AFP juga melaporkan Spanyol mengalami salah satu musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terburuk dalam beberapa dekade, dengan lebih dari 200.000 hektare lahan hangus terbakar atau dua kali lipat dari rata-rata tahunan historisnya, menurut rilis pers UNECE.

Seiring karhutla yang terus berkobar di seluruh Eropa dan Amerika Utara, yang menghancurkan hutan, mengancam masyarakat dan melepaskan karbon dalam jumlah sangat besar ke atmosfer, musim kebakaran 2026 lagi-lagi menunjukkan bahwa meskipun banyak kebakaran tidak dapat dihentikan saat mencapai inte

Uni Eropa (UE) pada Rabu (29/7) memperingatkan bahwa krisis karhutla sedang bergeser ke arah timur, dengan Yunani dan Italia diperkirakan akan menghadapi bahaya yang semakin besar seiring berlanjutnya gelombang panas, kekeringan dan angin kencang hingga awal Agustus mendatang.

Di seberang Atlantik, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Amerika Serikat (AS) mencatat sekitar 1.849.000 hektare lahan telah hangus terbakar sejauh ini pada 2026, sementara Kanada dilanda lebih dari 4.000 karhutla yang menghanguskan 3.770.000 hektare lahan, dengan puluhan kebakaran berskala besar masih belum dapat dikendalikan.

Karhutla mengancam jiwa, menghancurkan rumah, infrastruktur dan mata pencaharian, serta memaksa seluruh masyarakat untuk mengungsi. Dampak yang ditimbulkan menjangkau jauh melampaui perimeter kebakaran.

Asap dapat menyebar hingga ratusan bahkan ribuan kilometer, menurunkan kualitas udara, serta meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular di area-area yang jauh dari sumber api.

"Setiap musim panas mengingatkan kita bahwa karhutla bukan lagi sebuah peristiwa luar biasa, melainkan konsekuensi yang semakin dapat diprediksi dari iklim yang memanas," ujar Paola Deda, direktur Divisi Lingkungan dan Kehutanan UNECE.

"Meski upaya tanggap darurat tetap esensial, peluang terbesar kita terletak pada langkah pencegahan, pengelolaan hutan yang berkelanjutan, serta pembangunan bentang alam dan masyarakat yang lebih tangguh," katanya.



Share: