Banyak Konflik, UN Tourism Turunkan Proyeksi Kunjungan Wisman Global 2026

Sekitar 690 juta wisatawan melakukan perjalanan internasional selama periode paruh pertama 2026.


Jenewa, Suarathailand- Xinhua melaporkan UN Tourism pada Kamis (17/9) menurunkan proyeksi pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) global untuk tahun 2026 menjadi berkisar 1 persen hingga 2 persen, dari proyeksi awal 3-4 persen pada Januari lalu, seiring konflik di Timur Tengah dan kenaikan biaya perjalanan menekan momentum pertumbuhan.

World Tourism Barometer yang terbaru menunjukkan kunjungan wisman hanya meningkat 0,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada paruh pertama (H1) 2026. Sekitar 690 juta wisatawan melakukan perjalanan internasional selama periode tersebut, atau sekitar 3 juta lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kunjungan wisman meningkat sebesar 2 persen pada kuartal pertama (Q1) 2026, namun turun 1 persen pada Q2 2026. Pada Juni saja, kunjungan tersebut mengalami penurunan sebesar 3 persen (yoy).

Kunjungan wisman di Afrika tercatat meningkat 4 persen dalam enam bulan pertama tahun ini, diikuti oleh Eropa sebesar 3 persen, serta Benua Amerika sebesar 2 persen. Sementara itu, kunjungan ke kawasan Asia dan Pasifik naik 1 persen, namun masih berada 11 persen di bawah tingkat pada 2019.

Kawasan Timur Tengah mengalami penurunan kunjungan wisman sebesar 22 persen akibat konflik yang berdampak langsung terhadap kawasan tersebut, demikian menurut laporan itu.

Sekretaris Jenderal UN Tourism Shaikha Al Nuwais mengatakan, "Data terbaru menunjukkan sektor ini sedang menghadapi tekanan nyata dan berupaya mencari jalan keluar. Pariwisata memang tidak berhenti tumbuh, namun pertumbuhan tersebut rapuh. 

Situasi di Timur Tengah telah memengaruhi destinasi-destinasi yang jauh di luar kawasan itu sendiri dan menjadi pengingat jelas bahwa, di dunia yang saling terhubung ini, ketahanan perlu dibangun di mana pun, bukan hanya saat krisis melanda."

UN Tourism mengatakan proyeksi yang telah direvisi tersebut akan bergantung pada durasi konflik serta dampaknya terhadap harga minyak dan inflasi secara keseluruhan.

Harga yang tinggi dan ketidakpastian diperkirakan membuat para wisatawan tetap berfokus pada value for money, di mana banyak dari mereka kemungkinan akan memilih destinasi yang lebih dekat dengan tempat asal atau beralih ke perjalanan domestik, demikian menurut laporan tersebut.



Share: