Tiongkok Tahan Tiga Warga Negara Filipina atas Tuduhan Mata-Mata

Kedua negara saling tuduh atas tuduhan mata-mata


Singapura, Suarathailand- Tiongkok mengatakan telah menahan tiga warga negara Filipina yang diduga melakukan mata-mata, sebuah tindakan yang dapat semakin memperburuk hubungan antara Beijing dan Manila.

Kementerian Keamanan Negara mengatakan baru-baru ini menemukan kasus spionase yang melibatkan warga negara Filipina yang tinggal di Tiongkok, menurut Kantor Berita resmi Xinhua. Ketiganya — David Servañez, Albert Endencia, dan Nathalie Plizardo — telah direkrut oleh Manila sejak 2021 untuk melaksanakan tugas intelijen rahasia di Tiongkok, kata laporan itu, seraya menambahkan kasus tersebut sedang diselidiki.

Penahanan ini merupakan tanda terbaru dari meningkatnya ketegangan antara Beijing dan Manila, karena kedua negara terus berselisih mengenai sengketa wilayah di Laut Cina Selatan. 

Di masa lalu, Tiongkok telah menahan warga negara asing selama periode hubungan diplomatik yang tegang. Pada tahun 2018, dua warga negara Kanada ditangkap hanya beberapa hari setelah seorang eksekutif puncak di Huawei Technologies Co ditahan.

Penyiar pemerintah China merilis pengakuan video dari tiga orang tersebut pada hari Kamis, yang mengatakan bahwa mereka menyesali tindakan tersebut. 

"Warga negara Filipina di China seharusnya menjadi jembatan penting untuk promosi persahabatan China-Filipina, tetapi mereka telah dieksploitasi oleh badan mata-mata Filipina dan berubah dari 'jembatan persahabatan' menjadi 'sarang mata-mata'," kata China Central Television (CCTV) seperti dilaporkan Bangkok Post.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Filipina tidak segera menanggapi permintaan komentar. Media Filipina melaporkan bulan lalu bahwa tiga warga negara Filipina ditahan di provinsi Hainan, China. Tidak jelas apakah kedua kasus tersebut saling terkait.

Manila juga menuduh Beijing memata-matai negara tersebut. Pada bulan Januari, otoritas Filipina menangkap seorang warga negara China dan dua rekannya dari Filipina atas tuduhan spionase. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengatakan saat itu bahwa ia "sangat terganggu" oleh operasi spionase terhadap militer dan penjaga pantai.

Baru-baru ini, otoritas Filipina mengatakan bahwa mereka telah mengungkap jaringan yang terdiri dari ratusan orang yang diduga mata-mata China, operasi yang jauh lebih luas daripada yang diungkapkan sebelumnya.

Share: