Vaksin dari platform DNA juga relatif lebih ekonomis dan mudah untuk dikembangkan.
Budiman Bela mulai menggagas pengembangan vaksin pada Januari 2020 lalu saat dunia mulai intensif memberitakan kondisi Kota Wuhan, China. Virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 pertama kali teridentifikasi di Wuhan ketika kasus pneumonia misterius bermunculan akhir 2019.
Budiman bernaung di bawah Pusat Riset Virologi dan Kanker Patobiologi Universitas Indonesia (UI), perkumpulan peneliti yang sebelumnya sudah 'akrab' mengembangkan vaksin, mulai dari Influenza, Serviks, hingga HIV.
Niat mereka baru terealisasi sekitar Juni 2020, setelah proposal yang diajukan kepada Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek) disetujui.
Saat ini Kemenristek telah dilebur ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Seluruh kegiatan riset hingga penelitian dijalankan lembaga baru, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Di bawah arahan Bambang Brodjonegoro saat itu, sebuah konsorsium dibentuk dengan beranggotakan peneliti dari sejumlah lembaga dan universitas di Indonesia. Mereka sepakat untuk mengembangkan vaksin Covid-19 buatan dalam negeri yang kemudian sepakat diberi nama 'Merah Putih'.
Bagi sejumlah universitas di Indonesia, riset itu sekaligus menghidupkan poin kedua Tri Dharma Perguruan Tinggi; Penelitian dan Pengembangan.
"Idenya sudah dari Januari 2020, kami sudah mulai memikirkan itu. Namun pada waktu itu penawaran atau kesempatan pengajuan proposal belum ada," kata Budiman kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/2).
Dengan pendanaan yang cukup terbatas, riset mulai dilakukan. Tim UI dari awal sepakat menggunakan platform vaksin Deoxyribonucleic Acid (DNA). Pilihan itu diambil lantaran mereka sudah akrab dengan DNA sejak flu burung melanda di Indonesia.
Belum lagi penelitian dari salah satu tim sempat dinyatakan berhasil setelah menggunakan DNA dan cell penetrating peptide (CCP) yang dapat mengikat DNA dan menghantarkan DNA menembus dinding sel dan juga dinding inti sel.
CPP tersebut mampu merubah sel-sel fibroblas menjadi sel hati. Berangkat dari itu, tim UI menguji DNA dan CPP pada hewan, hasilnya pada aspek keamanan cukup baik.
"Dari situ kami mengajukan proposal penelitian vaksin Covid-19 menggunakan platform DNA," kata Budiman.
Budiman selaku Ketua Tim Pengembang Vaksin Merah Putih UI menyatakan pihaknya mengembangkan tiga platform pembuatan vaksin Covid-19, yakni DNA, mRNA, dan virus-like particle (VLP).
Dari ketiga platform tersebut, vaksin berbasis DNA memiliki kemajuan tercepat. Vaksin DNA merupakan vaksin yang direkayasa untuk menginduksi respons imunologis terhadap mikroorganisme (bakteri, parasit, jamur dan virus) pada inang baik itu manusia atau hewan.
Vaksin dari platform DNA juga relatif lebih ekonomis dan mudah untuk dikembangkan daripada vaksin konvensional seperti vaksin berbasis Inactivated Virus. Hal ini disebabkan vaksin ini diperbanyak pada kultur bakteri, sehingga membutuhkan media kembang biak yang lebih murah.
Budiman mengatakan vaksin berbasis DNA juga akan lebih mudah didistribusikan ke seluruh pelosok Indonesia karena sifatnya yang relatif lebih stabil dibandingkan platform vaksin lainnya.
Selain itu produksi vaksin DNA ini bisa lebih cepat. Namun, pemanfaatan vaksin DNA masih membutuhkan waktu dalam mengoptimalkan teknologi untuk memasukkan vaksin tersebut ke dalam inti sel manusia.
Cara Kerja Vaksin Merah Putih UI
Secara singkat, cara kerja vaksin Merah Putih UI adalah dengan memasukkan sel DNA ke dalam sel manusia, dan kemudian sel akan membentuk vaksin atau proteksi imun secara mandiri melalui pemberian DNA itu. Sama seperti vaksin lain, vaksin DNA mengajari sistem imun mengenali dan melawan infeksi virus tertentu.
Metode pemberian vaksin ini juga akan berbeda dengan platform vaksin yang sekarang digunakan di Indonesia seperti inactivated virus ataupun mRNA yang langsung diberikan kepada individu melalui injeksi langsung.
Hal itu karena vaksin DNA perlu melewati dua dinding penghalang sebelum mencapai ruang inti sel, yaitu dinding sel dan dinding inti sel. Pemberian vaksin berbasis DNA membutuhkan cara khusus untuk membantu vaksin tersebut masuk ke inti sel manusia.
Metode yang telah diketahui paling efektif saat ini berupa alat bernama elektroporator yang dapat mengalirkan listrik yang ditempelkan di permukaan kulit selama beberapa saat. Aliran listrik tersebut akan membuka pori dinding sel dan dinding inti sel, sehingga memungkinkan DNA masuk ke dalam ruang inti sel.
Elektroporator tersebut saat ini masih diteliti oleh tim UI. Budiman menyebut masih terdapat cara lain memakai vaksin ini, yakni injeksi menggunakan needle free injector dan menggunakan CPP.
"Tim peneliti UI tetap mempertimbangkan opsi pemanfaatan needle free injector dan juga elektroporator," kata dia. Baik needle free injector maupun elektroporator masih harus didatangkan dari luar negeri.
Namun, elektroporator yang tersedia saat ini cenderung kurang praktis karena sulit dibawa serta harganya yang masih relatif mahal. Metode ini dinilai kurang cocok untuk program vaksinasi massal.
Dengan kondisi itu, Budiman mengaku sudah berkoordinasi dengan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) untuk menciptakan alat yang fungsinya serupa elektroporator.
"Ada teknologi baru elektroporator, prinsip yang sama dengan pemantik api, jadi sangat murah sekali. Ini yang kita minta tolong kepada teman-teman FTUI untuk bisa dibuatkan alat seperti itu. Jadi murah meriah, semua orang bisa bawa kemana-mana," katanya.
Budiman menyebut tim peneliti UI saat ini sedang mempersiapkan vaksin ini untuk uji pre-klinik pada hewan kecil seperti mencit dan hamster agar selanjutnya bisa uji pre-klinik pada hewan primata.
Tes ini untuk melihat respons antibodi yang diberikan oleh vaksin. Selain itu, untuk mengamati respons Sel-T, CD4 dan CD8 serta daya proteksi vaksin terhadap infeksi virus.
"Jadi secara simultan akan dilakukan uji pre-klinik, uji keamanan vaksin, dan optimasi produksi untuk mendapatkan kondisi produksi vaksin dengan hasil (yield) yang tinggi secara efisien dan ekonomis. Kemungkinan dalam waktu dekat hasilnya keluar," katanya.
Budiman mengatakan vaksin berbasis DNA ini berpotensi menjadi mitigasi apabila terjadi katastrofe pada masa mendatang. Menurutnya, vaksin DNA sebenarnya sudah dikerjakan di UI sejak wabah flu burung pada 2005 silam.
Namun, kata Budiman, saat itu vaksin jenis ini belum dilihat sebagai teknologi yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut.
"Kami sudah sadar dari awal bahwa ini jalannya akan panjang. Tapi daripada tidak pernah dikerjakan ya. Vaksin DNA sudah mulai dikerjakan di UI sejak adanya KLB flu burung," ujarnya.
Budiman mengaku telah berkoordinasi dengan BRIN untuk ikut memberikan masukan mengenai penyediaan fasilitas dan sarana prasarana dalam memenuhi pedoman Good Manufacturing Practices (GMP) yang disyaratkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), khususnya untuk produksi vaksin DNA.
Pihaknya juga sudah mengajukan sponsor ke sejumlah organisasi filantropi untuk mendukung penelitian ini. Fasilitas GMP telah ditetapkan berada di BRIN agar bisa dimanfaatkan para peniliti lain.
Namun, Budiman berpendapat pengadaan fasilitas GMP di perguruan tinggi tentu akan menunjang pendidikan dan penelitian dalam bidang produksi vaksin dan obat, khususnya yang berbasis bioteknologi.
Keberadaan 'teaching factory' dalam bentuk fasilitas GMP di perguruan tinggi bakal meningkatkan kemampuan pengajar dari berbagai fakultas di UI, khususnya dari Fakultas Farmasi, untuk memberikan bimbingan bagi mahasiswa yang kelak akan menjadi sumber daya manusia Indonesia di bidang produksi bahan obat berbasis teknologi terkini.
"Fasilitas GMP di perguruan tinggi juga akan mempercepat perolehan bahan obat dan vaksin yang dapat digunakan untuk kepentingan uji klinik fase I dan fase II. Agar tidak membebani pemerintah, fasilitas GMP di Perguruan Tinggi dapat bekerjasama dengan pihak swasta," ujarnya.
Budiman meminta semua pihak mendukung penelitian ini guna kemandirian vaksin. Secara sains penelitian ini mudah dilakukan, namun keterbatasan sumber daya manusia (SDM), teknologi, dan juga birokrasi yang berbelit membuat penelitian berjalan lambat.
Ia pun mendorong pemerintah lebih memaksimalkan riset di Indonesia. Hal ini sebagai salah satu wajah kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi. Budiman yakin vaksin DNA ini bisa rampung dan dipakai pada 2023 mendatang.
Target Vaksin UI Uji Klinis 2022
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN, Iman Hidayat mengatakan vaksin Merah Putih yang sedang dikembangkan tim peneliti UI disebut sebagai vaksin generasi ketiga. Menurutnya, vaksin berbasis DNI dianggap lebih stabil, hemat biaya, dan mudah ditangani.
"Kalau untuk UI, vaksin berbasis platform DNA ini memang sering disebut sebagai vaksin generasi ketiga. Vaksin dari platform DNA ini dianggap lebih stabil, hemat biaya, dan lebih mudah ditangani daripada vaksin konvensional seperti vaksin berbasis inactivated virus," kata Iman kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/2).
Iman menjelaskan vaksin berbasis DNA dahulu masih lebih banyak digunakan untuk vaksin veteriner. Namun, saat ini mulai banyak perusahaan yang membuat vaksin Covid 19 berbasis DNA.
BRIN, kata Iman, pada prinsipnya akan memfasilitasi pendanaan dan infrastruktur mulai dari riset di laboratorium uji praklinis hingga klinis untuk seluruh tim vaksin Merah Putih, termasuk tim UI.
Untuk pendanaan riset penanganan Covid-19, BRIN telah mengalokasikan Rp350 miliar. Selanjutnya, untuk pendanaan riset di organisasi riset terkait di BRIN sebesar Rp60 miliar, serta pendanaan infrastruktur pendukung (animal BSL-3 primata, cGMP) sebesar Rp300 miliar.
"Platform pendanaan BRIN yang sebesar Rp350 miliar untuk memfasilitasi riset Covid 19 ini semuanya berbasis kompetisi, tidak dijatah-jatah dan juga sesuai dengan progress dan kebutuhan masing-masing tim," ujarnya.
Iman menyatakan pihaknya tak menargetkan kapan vaksin yang dikembangkan tim peneliti UI ini masuk uji klinis sampai siap diberikan kepada manusia. Ia pun menyerahkan sepenunya kepada tim peneliti UI.
Berdasarkan timeline yang ditetapkan BRIN dan tim peneliti UI, vaksin Merah Putih UI bisa memasuki uji praklinis dan uji klinis pada 2022. Namun, Iman mengingatkan target tersebut bisa saja molor karena setiap penelitian pasti terjadi kesalahan.
"Mudah-mudahan tim vaksin UI ini bisa memasuki uji praklinis dan uji klinis di tahun 2022," ujar Iman. (cnnindonesia)




