Thailand Waspada Masuk Peringkat 2 Global dalam Ancaman Disinformasi Kritis

Ketegangan geopolitik dan volatilitas ekonomi disebut sebagai faktor kunci yang mempercepat ancaman keamanan ini terhadap bisnis.


Bangkok, Suarathailand- Menurut laporan keamanan global, Thailand menempati peringkat kedua di dunia dalam hal tingkat di mana pelaku ancaman termotivasi oleh disinformasi.

Selama tahun lalu, 78% perusahaan menengah hingga besar di Thailand menjadi sasaran kampanye misinformasi dan disinformasi.

Ketegangan geopolitik dan volatilitas ekonomi disebut sebagai faktor kunci yang mempercepat ancaman keamanan ini terhadap bisnis.

Kebocoran informasi sensitif juga diprediksi akan menjadi ancaman keamanan internal utama bagi perusahaan Thailand tahun depan.

Menyelami Ancaman Baru: Ketika Misinformasi Menjadi Senjata Korporasi

Laporan Keamanan Dunia terbaru oleh Allied Universal dan G4S, yang mensurvei lebih dari 2.300 Kepala Petugas Keamanan (CSO) secara global, mengungkapkan bahwa Thailand memasuki era keamanan baru yang mengkhawatirkan.


Temuan utama meliputi:

Statistik yang Mengkhawatirkan: 78% perusahaan menengah hingga besar di Thailand menjadi sasaran kampanye "misinformasi dan disinformasi" selama tahun lalu.

Niat Jahat: 60% pakar mencatat bahwa lebih dari separuh pelaku ancaman didorong oleh disinformasi, tingkat tertinggi kedua di dunia.

Kerentanan Internal: Di luar serangan eksternal, kebocoran informasi sensitif diprediksi akan menjadi ancaman internal utama yang perlu dipantau secara cermat tahun depan.


Katalis Geopolitik dan Ekonomi

Sanjay Verma, Presiden - Asia & Timur Tengah di G4S, mencatat bahwa kawasan ini menghadapi kompleksitas dari ketegangan geopolitik dan volatilitas ekonomi. Faktor-faktor ini mempercepat kejahatan siber yang dimotivasi secara finansial dan pola ancaman yang muncul.

Komol Panmongkol, Country Manager G4S Thailand, menambahkan bahwa dengan ketidakstabilan ekonomi yang disebut sebagai ancaman utama (53%), bisnis harus mengubah perspektif mereka tentang keamanan. Keamanan harus berkembang dari fungsi pendukung menjadi "strategi inti perusahaan."


Strategi untuk Ketahanan dan Keberlanjutan

Untuk mengatasi krisis disinformasi dan ketidakstabilan global, laporan ini menyarankan tiga pilar utama:

1. Mengintegrasikan Teknologi Canggih: Berinvestasi dalam AI dan solusi digital untuk mendeteksi dan melawan disinformasi dengan cepat.

2. Meningkatkan Keterampilan Personel: Melatih staf garis depan untuk menguasai teknologi keamanan dan selalu selangkah lebih maju dari taktik siber.

3. Membina Budaya Keamanan: Memastikan bahwa keamanan dipandang sebagai tanggung jawab semua orang, bukan hanya satu departemen.

Share: