Menteri Pertahanan Thailand menegaskan bahwa konflik tersebut adalah masalah bilateral dan tidak memerlukan intervensi pihak ketiga dari negara-negara seperti Tiongkok atau AS.
Bangkok, Suarathailand- Thailand menyatakan gencatan senjata dengan Kamboja tidak mungkin dilakukan sampai pasukan Kamboja menarik diri dari semua zona konfrontasi.
Menjelang pertemuan ASEAN, Menteri Pertahanan Thailand menegaskan bahwa konflik tersebut adalah masalah bilateral dan tidak memerlukan intervensi pihak ketiga dari negara-negara seperti Tiongkok atau AS.
Thailand mengklaim Kamboja memulai agresi militer dan telah menetapkan tiga syarat untuk mengakhiri permusuhan secara permanen: penghentian agresi harus jelas, berkelanjutan, dan transparan.
Menteri Pertahanan menuduh pasukan Kamboja melakukan serangan tanpa pandang bulu dan menggunakan ranjau darat yang melanggar Konvensi Ottawa, mengkritik kurangnya kecaman internasional.
Di Kantor Sekretaris Tetap Pertahanan (Si Saman), Organisasi Veteran Perang Thailand (WVO) menyelenggarakan pertemuan di bawah proyek "Kekuatan Veteran untuk Tanah Air" pada hari Jumat (19 Desember).
Jenderal Nattapon Nakpanich, Menteri Pertahanan, memimpin acara tersebut untuk meningkatkan moral pasukan yang saat ini membela kedaulatan Thailand dari agresi militer Kamboja dan untuk mendesak para veteran agar tetap waspada terhadap ancaman keamanan nasional.
Tanggapan terhadap Protes Perdamaian dan Syarat Gencatan Senjata
Menanggapi laporan tentang "ratusan ribu" warga Kamboja yang berunjuk rasa menuntut perdamaian, Nattapon menyatakan skeptisisme mengenai angka yang diklaim tersebut, mencatat bahwa bukti visual tampaknya tidak mendukung angka tersebut.
Ia menekankan bahwa jika Kamboja benar-benar menginginkan gencatan senjata, hal itu dapat diimplementasikan segera melalui tindakan, bukan retorika.
"Jika pemerintah Kamboja dan massa, yang dipimpin oleh anggota keluarga Hun, menyerukan perdamaian sementara pasukan garis depan mereka terus melakukan provokasi dan tetap berada di zona konfrontasi, gencatan senjata tidak mungkin terjadi secara realistis," kata Nattapon.
Menteri Pertahanan menegaskan kembali bahwa solusinya sederhana: Kamboja harus menarik pasukannya dari daerah konfrontasi sebelum negosiasi dapat dilanjutkan.
Ia lebih lanjut menegaskan bahwa konflik perbatasan adalah masalah bilateral antara Thailand dan Kamboja, dan tidak memerlukan intervensi dari pihak ketiga seperti Tiongkok atau Amerika Serikat.
Harapan untuk Pertemuan Menteri ASEAN
Mengenai pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN yang akan datang di Malaysia pada 22 Desember, Nattapon menegaskan bahwa Thailand telah mengupayakan perdamaian sejak awal.
Sambil mengucapkan terima kasih kepada komunitas internasional atas ucapan selamat mereka, ia mencatat bahwa kekuatan dunia dengan kemampuan satelit dapat memverifikasi bahwa Kamboja yang memulai pergerakan militer.
Thailand tetap teguh pada tiga syarat untuk mengakhiri permusuhan secara permanen:
-Pengakhiran semua tindakan permusuhan harus jelas.
-Pengakhiran semua tindakan permusuhan yang berkelanjutan.
-Pengakhiran semua tindakan permusuhan yang transparan.
"Setelah ketiga elemen ini terpenuhi, kita dapat melanjutkan proses perdamaian," katanya.
Kementerian Pertahanan telah memberikan data pendukung kepada Kementerian Luar Negeri dan telah menunjuk Jenderal Nattapong Praokaew, Wakil Kepala Staf Gabungan, untuk mewakili Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand pada pertemuan tanggal 22 Desember.
Operasi Udara dan Standar Ganda Internasional
Mengenai operasi udara di wilayah Poipet, Nattapon mengklarifikasi bahwa Angkatan Udara Kerajaan Thailand beroperasi di bawah prinsip-prinsip ketat untuk menghindari korban sipil.
Penargetan: Thailand menggunakan teknologi canggih untuk memverifikasi dan menyerang hanya target militer.
Kontras: Ia menuduh pihak Kamboja melakukan serangan tanpa pandang bulu yang mengakibatkan korban sipil Thailand.
Menteri Pertahanan menyimpulkan dengan menyatakan kekecewaannya atas kebungkaman komunitas internasional mengenai provokasi Kamboja.
Ia secara khusus menyoroti bahwa tujuh tentara Thailand telah kehilangan anggota tubuh akibat ranjau darat, pelanggaran langsung terhadap Konvensi Ottawa (Perjanjian Pelarangan Ranjau), namun tidak ada badan internasional yang mengeluarkan kecaman terhadap Kamboja atas insiden ini.




