Kelompok militan Organisasi Pembebasan Bersatu Patani (PULO) dalangi serangan bom di bulan Ramadan.
Pemerintah Thailand menegaskan serangan bom yang terjadi pada bulan suci Ramadan di selatan Thailand yang berpenduduk mayoritas Muslim tidak akan menggagalkan pembicaraan damai dengan pemberontak.
Dua ledakan terjadi pada Jumat (15/4), yang menewaskan seorang warga sipil dan melukai tiga polisi, dilakukan oleh "G5", sebuah kelompok militan Organisasi Pembebasan Bersatu Patani (PULO). Hal ini diungkapkan Presidennya, Kasturi Mahkota, kepada Reuters.
Kasturi mengatakan kepada Reuters pada Sabtu (16/4) bahwa pembicaraan tidak cukup inklusif dan berjalan terlalu cepat. Kelompok pemberontak menolak kesepakatan yang akan mengesampingkan kemungkinan kemerdekaan dari Thailand yang mayoritas beragama Buddha.
PULO telah dikeluarkan dari pembicaraan antara Bangkok dan Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang dua minggu lalu sepakat untuk menghentikan kekerasan selama bulan suci umat Islam hingga 14 Mei mendatang.
Negosiator pemerintah mengutuk kekerasan dalam email ke Reuters pada Minggu (17/4) tetapi mengatakan perjanjian gencatan senjata dengan BRN tetap berlaku. Koordinator dari kedua belah pihak bekerja sama untuk mencegah pihak lain merusak pembicaraan.
"Menyatukan kelompok untuk dialog perdamaian adalah masalah internal bagi pihak lain, dan tim Thailand siap dan senang untuk berbicara dengan semua kelompok," tulis delegasi pemerintah.
Adapun BRN menolak berkomentar. Pembicaraan tersebut mencari solusi politik untuk konflik selama beberapa dekade di bawah kerangka konstitusi Thailand. (reuters)




