Thailand Sudah Bubarkan DPR untuk ke-15 Kali: Sejarah Pembubaran Parlemen

Parlemen Thailand dibubarkan untuk ke-15 kalinya akibat kebuntuan politik dan kegagalan membentuk koalisi pemerintahan yang stabil, yang mengancam kepercayaan ekonomi negara.


Bangkok, Suarathailand- Pembubaran parlemen merupakan langkah yang berulang dalam politik Thailand, telah digunakan 14 kali sebelumnya selama 90 tahun terakhir sebagai respons terhadap ketidakstabilan yang signifikan.

Secara historis, alasan utama pembubaran parlemen meliputi ketidakstabilan pemerintah setelah mosi yang kalah, perselisihan kebijakan besar, krisis dan protes publik, serta manuver politik strategis.

Kondisi politik di Thailand telah kacau balau setelah Wakil Perdana Menteri Phumtham Wechayachai, yang bertindak atas nama Perdana Menteri, mengumumkan pembubaran parlemen.

Ia mengklaim bahwa sistem telah "terdistorsi dan tidak berjalan sebagaimana mestinya," dengan mengutip kebuntuan politik yang mengancam akan merusak kepercayaan ekonomi.

Langkah ini diambil setelah Partai Bhumjaithai dan Partai Rakyat, setelah sepakat membentuk pemerintahan, gagal menciptakan koalisi yang stabil dan bersatu.

Kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya ini telah menciptakan perpecahan tiga arah dalam politik Thailand, dengan Partai Bhumjaithai memimpin pemerintahan minoritas, Partai Pheu Thai bertindak sebagai oposisi, dan Partai Rakyat memainkan peran ganda yang rumit.

Phumtham menyatakan bahwa situasi ini tidak hanya menyebabkan keresahan politik tetapi juga berdampak langsung pada kepercayaan ekonomi negara.

Ia memperingatkan bahwa jika kepercayaan tidak segera dipulihkan, permasalahan ekonomi negara yang ada akan semakin parah.

Setelah berkonsultasi dengan para ahli hukum, keputusan dibuat untuk membubarkan badan legislatif dan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat melalui pemilihan umum baru.

Pembubaran terbaru, yang dikonfirmasi pada 2 September 2025, menandai ke-15 kalinya dalam sejarah Thailand pemerintah mengambil langkah drastis ini.

Tinjauan data dari Pusat Sumber Daya Informasi Parlemen menunjukkan bahwa tindakan tersebut merupakan respons berulang terhadap ketidakstabilan politik, dengan 14 kasus sebelumnya selama 90 tahun terakhir.

Secara historis, pembubaran ini didorong oleh empat faktor utama:

Mosi yang Dikalahkan dan Ketidakstabilan (7 kali): Ini adalah alasan paling umum, terjadi ketika pemerintah kehilangan mayoritas di DPR atau menghadapi keretakan internal yang parah yang membuatnya mustahil untuk memerintah secara efektif. Contoh penting termasuk pembubaran pada tahun 1938, 1976, 1986, 1988, 1995, 1996, dan 2011.

Sengketa Kebijakan atau Hukum (3 kali): Pembubaran ini dipicu ketika pemerintah mencoba meloloskan undang-undang yang kontroversial, seperti undang-undang amnesti atau amandemen konstitusi, yang disambut dengan oposisi publik dan politik yang luas. Hal ini terjadi pada tahun 1945, 1983, dan 2013.

Krisis dan Protes Politik atau Ekonomi (3 kali): Dalam kasus-kasus ini, pemerintah membubarkan parlemen setelah protes besar atau pergolakan ekonomi, mencari jalan keluar dari krisis dengan mengembalikan kekuasaan kepada publik. Hal ini terjadi setelah peristiwa 'Mei Hitam' pada tahun 1992 dan selama krisis politik pada tahun 2006 dan 2013.

Strategi Politik (1 kali): Jenis pembubaran yang jarang terjadi ini merupakan langkah taktis untuk mendapatkan keuntungan politik, seperti mengatur waktu pemilihan umum baru agar kandidat dapat berganti partai. Hal ini terakhir terjadi pada tahun 2023.


Kronologi Pembubaran Parlemen di Thailand

1938: Kolonel Phraya Phahol Pholphayuhasena dikalahkan dalam mosi terkait RUU anggaran.

1945: M.R. Seni Pramoj menghadapi konflik terkait Undang-Undang Penjahat Perang.

1976: M.R. Kukrit Pramoj menghadapi konflik internal pemerintahan.

1983-1988: Jenderal Prem Tinsulanonda menghadapi konflik antara cabang eksekutif dan legislatif serta divisi-divisi dalam koalisi.

1992: Pemerintahan Anand Panyarachun membubarkan parlemen karena krisis politik (Mei Hitam).

1995-2000: Pemerintahan Chuan Leekpai dan Banharn Silpa-archa membubarkan parlemen karena konflik administratif dan keretakan koalisi.

2006: Pemerintahan Thaksin Shinawatra membubarkan parlemen karena krisis politik (protes yang menuntut pengunduran dirinya).

2011-2013: Pemerintahan Abhisit Vejjajiva dan Yingluck Shinawatra membubarkan parlemen akibat perpecahan koalisi dan krisis sosial.

2023: Pemerintahan Jenderal Prayut Chan-o-cha membubarkan parlemen akibat konflik eksekutif-legislatif dan sebagai persiapan untuk pemilihan umum baru.

Sejarah pembubaran parlemen menggambarkan sebuah bangsa yang seringkali terpaksa mengubah haluan politiknya.

Selagi negara bersiap untuk pemilihan umum berikutnya, semua mata tertuju pada apakah tindakan pembubaran terbaru ini akan menyelesaikan kebuntuan yang ada atau sekadar menambah babak baru dalam sejarah politik Thailand yang bergejolak.

Share: