Thailand Selatan Diselimuti Asap Kebakaran Hutan Berasal dari Sumatra

Situasi ini  mendorong tingkat polusi udara ke kategori peringatan merah dan memicu imbauan bagi warga untuk tetap berada di dalam ruangan.


Hat Yai, Suarathailand- The Nation melaporkan asap kebakaran hutan dari Sumatra menyelimuti Hat Yai, mendorong kadar PM2.5 ke tingkat yang tidak sehat dan memicu peringatan di delapan provinsi di Thailand selatan.

Asap dari kebakaran hutan di Pulau Sumatra, Indonesia, menyelimuti Hat Yai dan wilayah lain di bagian selatan Thailand pada hari Rabu (16 September 2026). 

Situasi ini  mendorong tingkat polusi udara ke kategori peringatan merah dan memicu imbauan bagi warga untuk tetap berada di dalam ruangan.

Angin monsun barat daya terus membawa asap ke wilayah tersebut, menurunkan kualitas udara hingga ke tingkat yang berbahaya bagi kesehatan.

Pusat Penelitian Polusi Udara dan Dampak Kesehatan Universitas Prince of Songkla melaporkan bahwa konsentrasi partikel halus (PM2.5) telah meningkat hingga kisaran 75,0 hingga 89,0 mikrogram per meter kubik (µg/m³), tingkat yang dikaitkan dengan dampak buruk bagi kesehatan.

Pusat penelitian tersebut mengimbau warga untuk menghindari aktivitas di luar rumah dan mengenakan masker pelindung jika harus keluar rumah.

Delapan provinsi di Thailand Selatan Memerlukan Pemantauan Ketat

Provinsi-provinsi yang memerlukan pemantauan ketat adalah Songkhla, Yala, Pattani, Narathiwat, Satun, Phatthalung, Trang, dan Nakhon Si Thammarat, karena konsentrasi PM2.5 tetap tinggi di banyak wilayah selatan.

Di distrik Hat Yai, angka PM2.5 per jam tercatat sebesar 85,5 µg/m³—yang dalam laporan tersebut digambarkan berdampak serius terhadap kesehatan—sementara rata-rata harian mencapai 77,9 µg/m³.

Dengan angin yang masih bertiup dari arah barat daya, asap dari area yang terbakar di Sumatra bagian selatan terus mencapai wilayah selatan Thailand.


Sirkulasi Udara Buruk Sebabkan Penumpukan Polusi

Tingkat ventilasi yang sangat rendah diperkirakan terjadi di seluruh wilayah selatan Thailand selama periode 14–23 September 2026, akibat angin lemah dan rendahnya ketinggian pencampuran atmosfer.

Kondisi ini menghambat penyebaran asap ke atas dan mencegah polutan yang datang dari luar wilayah untuk terurai atau hilang. Akibatnya, partikel halus menumpuk di atmosfer dekat permukaan tanah, mencapai tingkat yang berbahaya bagi kesehatan. 

Orang-orang dengan kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, termasuk alergi, telah mulai mengalami gejala seperti sensasi terbakar di hidung dan tenggorokan.

Share: