Penggunaan AI yang tinggi di kalangan siswa dan guru di Thailand kontras dengan kesiapan yang rendah dalam pemahaman, etika, dan dukungan, menurut laporan ASEAN Digital Outlook dan AI Ready ASEAN Research terbaru.
Bangkok, Suarathailand- Thailand telah muncul sebagai negara terdepan di ASEAN dalam hal penggunaan AI, menurut laporan baru dari ASEAN Digital Outlook.
Namun, terlepas dari adopsi yang meluas, Thailand, bersama dengan negara-negara ASEAN lainnya, masih menghadapi tantangan dalam sepenuhnya siap untuk menangani AI secara bertanggung jawab, khususnya di sektor pendidikan.
Laporan terbaru—"ASEAN Digital Outlook" dan "AI Ready ASEAN Research"—menyoroti bagaimana AI telah diam-diam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di seluruh ASEAN, dari pendidikan dan pekerjaan hingga perdagangan online dan layanan pemerintah.
Namun, pertanyaan kuncinya bukanlah apakah kawasan ini dapat menggunakan AI, tetapi apakah kawasan ini siap untuk mengelola dan memahami implikasinya.
ASEAN Digital Outlook mengungkapkan perlunya kesiapan kelembagaan yang lebih baik, dengan masalah seperti kesenjangan keterampilan digital, kelemahan keamanan siber, dan kurangnya peraturan penggunaan AI yang jelas yang umum terjadi di banyak negara. Laporan tersebut memperingatkan bahwa meskipun alat AI tersedia, alat tersebut sering digunakan tanpa pemahaman yang tepat, sehingga menimbulkan risiko bagi perekonomian dan masyarakat dalam jangka panjang.
Thailand memimpin ASEAN dalam penggunaan AI tetapi menghadapi tantangan dalam kesiapan, kata laporan tersebut
Lanskap AI Thailand
Thailand, dengan ekonomi digital yang berkembang dan populasi pemuda yang besar, telah menunjukkan adopsi AI tertinggi di kawasan ini, khususnya di kalangan siswa. Laporan AI Ready ASEAN Research mencatat bahwa lebih dari 90% siswa di Thailand secara teratur menggunakan alat AI, terutama di bidang kreatif seperti menulis, meringkas, dan desain digital. Sementara itu, lebih dari 80% guru juga menggunakan AI dalam pekerjaan mereka.
Namun, sementara generasi muda merangkul AI, guru dan orang tua telah menyatakan kekhawatiran tentang ketergantungan yang berlebihan pada AI, terutama dalam hal pekerjaan rumah dan keterampilan pemecahan masalah. Ketergantungan pada alat AI ini berpotensi berdampak pada kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah dalam jangka panjang.
Risiko penggunaan AI yang tidak diatur
Laporan tersebut juga menyoroti potensi bahaya penggunaan AI secara luas tanpa pedoman yang jelas. Isu-isu seperti berita palsu, penipuan daring, manipulasi deepfake, dan pelanggaran privasi data menjadi kekhawatiran yang meningkat, yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap sistem digital dan menyebabkan biaya ekonomi yang lebih tinggi di masa depan.
Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, menyerukan pergeseran dalam diskusi regional dari sekadar akses ke teknologi menjadi penilaian bagaimana lembaga—terutama sekolah, guru, dan masyarakat—dapat secara bertanggung jawab mengelola dan terlibat dengan AI.
Pandangan ini didukung oleh Marija Ralic, Kepala Google.org untuk wilayah Asia Pasifik, yang menekankan bahwa hanya memiliki teknologi AI saja tidak cukup; pengguna harus memahami keterbatasan dan dampaknya agar benar-benar bermanfaat.




