Al-Quran menyebutkan pentingnya persatuan dan hidup berdampingan secara damai dalam banyak ayat.
Suarathailand- Dalam konteks masyarakat multikultural, khususnya di wilayah perbatasan selatan Thailand yang beragam suku, bahasa, dan agama, terciptanya saling pengertian di antara sesama merupakan landasan penting bagi hidup berdampingan secara damai.
Oleh karena itu, peran Islam dan lembaga pemerintah penting dalam membentuk masyarakat yang bebas dari kecurigaan atau perpecahan.

-Islam Tidak Mendukung Perpecahan-
Islam memiliki prinsip yang jelas melarang hasutan untuk memecah belah antar manusia, baik dalam hal agama, ras, maupun ideologi. Al-Quran menyebutkan pentingnya persatuan dan hidup berdampingan secara damai dalam banyak ayat, dengan menekankan bahwa perbedaan adalah apa yang Allah kehendaki agar manusia saling belajar, bukan untuk menimbulkan konflik.
"Dan berpegang teguhlah kepada tali Allah, kamu sekalian, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali Imran:103).
Ayat ini mencerminkan maksud Islam yang bertujuan mempersatukan masyarakat manusia. Menghasut ujaran kebencian, atau mendiskriminasi orang berdasarkan ras atau agama jelas merupakan pelanggaran terhadap asas keimanan.
Islam juga menganjurkan agar mereka yang merusak kedamaian dalam masyarakat atau mereka yang mencari keuntungan melalui konflik harus ditolak oleh masyarakat.
Oleh karena itu, umat beriman memiliki kewajiban untuk mempromosikan perdamaian dan mencegah tindakan apa pun yang mengarah pada kebencian, bahkan jika orang tersebut mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Muslim.
-Pemerintah Thailand Mendukung Perbedaan yang Membangun-
Dalam konteks pemerintah Thailand, khususnya pejabat di provinsi perbatasan selatan, telah terjadi perkembangan menarik dalam mendukung keberagaman budaya dan identitas masyarakat. Banyak pejabat menyadari pentingnya menghormati dan mendukung perbedaan, tidak hanya dalam hal budaya, tetapi juga dalam hal kepercayaan dan cara hidup.
Proyek yang mempromosikan penggunaan bahasa Melayu di sekolah, mendukung pakaian keagamaan di lembaga pemerintah, atau berpartisipasi dalam upacara masyarakat sebagai pendukung semuanya merupakan cerminan upaya untuk membangun jembatan pemahaman, bukan tembok pemisah.
Pejabat pemerintah yang berpikiran terbuka melihat identitas lokal sebagai “modal sosial” daripada “hambatan terhadap keamanan,” yang memungkinkan mereka untuk merumuskan kebijakan dalam bentuk “pembangunan untuk perdamaian” daripada “kontrol untuk mengurangi risiko.”
Peran positif ini mengurangi penolakan dari masyarakat, meningkatkan kepercayaan, dan memungkinkan pemerintah bekerja lebih efektif dengan masyarakat setempat. Lebih jauh, ketika pejabat pemerintah dengan jelas menunjukkan mereka tidak berprasangka buruk terhadap Islam atau cara hidup Muslim, kerja sama muncul berdasarkan "saling menghormati," bukan hanya "penerimaan."
-Hidup Berdampingan dengan Penuh Pengertian-
Masyarakat Thailand pada dasarnya beragam. Pejabat negara harus menjadi panutan dalam memahami identitas yang berbeda.
Pada saat yang sama, para pemimpin agama dan orang-orang yang beriman harus mempromosikan Islam dengan cara yang tidak menciptakan hambatan, tidak menghakimi orang lain, dan tidak menggunakan agama sebagai alat politik atau ideologi ekstrem.
Kedamaian sejati tidak datang dari kesamaan yang sepenuhnya, tetapi dari "hidup bersama dengan memahami perbedaan." Peran agama dan negara harus berjalan beriringan untuk mendorong masyarakat menuju stabilitas yang berakar di hati rakyat.




