Aparat Thailand berhasil mengagalkan penyelundupan bahan narkoba tujuan Myanmar.
Bangkok, Suarathailand- Aparat Thailand berhasil menggagalkan pengiriman toluena, pelarut yang juga dapat berfungsi sebagai prekursor untuk obat-obatan narkotika. Toluena yang kan dikirim ke Myanamar berhasil dicegat dan disita di Pelabuhan Laem Chabang di distrik Si Racha.
Perdana Menteri Thailand yang hadir dalam jump apers menekankan komitmen pemerintah untuk memberantas narkotika sebagai prioritas nasional.
Ia memuji berbagai lembaga, termasuk Kepolisian Kerajaan Thailand, ONCB, Departemen Bea Cukai, Departemen Pekerjaan Industri, dan Biro Penanggulangan Narkotika, atas upaya kolaboratif mereka dalam menyita 90 ton toluena.
Toluena diklasifikasikan sebagai bahan berbahaya Kategori 3 berdasarkan Undang-Undang Zat Berbahaya tahun 1992. Perdana Menteri Srettha telah menyerukan penyelidikan menyeluruh atas kasus tersebut.
Letnan Jenderal Polisi Panurat mengungkapkan polisi dan ONCB telah menerima informasi mengenai penyelundupan toluena dalam enam kontainer pengiriman di Pelabuhan Laem Chabang. Berasal dari Busan, Korea Selatan, bahan kimia tersebut akan dikirim ke Yangon, Myanmar, melalui Mae Sot di Tak.

Polisi berhasil menyita kiriman tersebut sebelum dapat diangkut melalui darat.
Setelah diperiksa, petugas menemukan bahwa importir sebelumnya tidak pernah mengimpor jenis zat ini. Toluena banyak digunakan dalam industri seperti cat otomotif, pewarnaan kain, serta produksi karet dan plastik. Namun, toluena juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kimia prekursor untuk produksi obat-obatan terlarang.
Jika 90 ton toluena berhasil diselundupkan untuk produksi obat-obatan terlarang, toluena dapat diubah menjadi 4,5 ton sabu (Ice), 270 juta pil sabu, dan 4,5 ton kokain.
Panurat menyatakan bahwa nilai toluena sekitar 3,6 juta baht, tetapi potensi hasil obat-obatan terlarang dapat bernilai puluhan miliar baht.
“Polisi akan mengeluarkan surat panggilan untuk para bos perusahaan yang mengimpor zat tersebut.”
Operasi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk membongkar siklus produksi obat-obatan terlarang secara menyeluruh. Sejak tahun lalu, 859 ton bahan kimia prekursor telah disita.
Asal pengiriman ini termasuk India, Australia, Cina, dan Korea Selatan, dengan tujuan di Myanmar dan Laos, lapor Bangkok Post.




