Kunjara Na Ayudhya, wakil gubernur Tourism Authority of Thailand (TAT), seperti dilansir dari laman South China Morning Post, Minggu (24/5/2020), percaya bahwa turis Tiongkok adalah pasar terbesar Negeri Gajah Putih dan sebagian besar negara Asia.
Lebih dari satu banding empat turis yang menyambangi Thailand tahun lalu adalah pelancong asal Negeri Tirai Bambu. Mengingat penerbangan jarak jauh diperkirakan tak akan pulih dalam waktu dekat, pemerintah Thailand mengandalkan lama penerbangan sebaliknya.
Berdasarkan data, mereka percaya bahwa menggaet turis Tiongkok bisa jadi cara memulihkan sektor pariwisata, sekaligus ekonomi. Upaya ini juga dikatakan akan membantu negara tetangga, seperti Myanmar, Laos, dan Kamboja untuk bangkit di sektor yang sama.
Dalam sebuah survei melibatkan lebih dari seribu turis di beberapa kota di Tiongkok, 71 persen dari mereka mempertimbangkan pergi ke Thailand pada 2020.
Kendati, turis lansia akan lebih jarang, mengingat usia yang merespons survei tersebut rata-rata berada pada rentang 20--40 tahun. Masih dalam survei yang sama, para turis Tiongkok mengaku akan menghabiskan uang 15 ribu yuan atau setara Rp31 juta untuk setiap perjalanan.
Kendati, strategi ini akan terus digodok sampai perjalanan dinyatakan aman. Protokol kesehatan pun tengah digarap pemerintah Thailand agar pemulihan berjalan sesuai rencana.
TAT pun berencana mengubah tagline dari "Amazing Thailand" jadi "Amazing Trusted Thailand". (South China Morning Post, Liputan6.com)




