Bentrokan perbatasan yang sedang berlangsung antara Thailand dan Kamboja terus berlanjut di seluruh wilayah perbatasan.
Bangkok, Suarathailand- Kementerian Pertahanan Thailand menolak klaim palsu dari Kamboja mengenai penembakan jatuh F-16 dan tuduhan ekspansi wilayah. Situasi di perbatasan tetap tegang.
Laksamana Muda Surasant Kongsiri, juru bicara Kementerian Pertahanan, mengkonfirmasi bentrokan perbatasan yang sedang berlangsung antara Thailand dan Kamboja terus berlanjut di seluruh wilayah perbatasan.
Ia mendesak masyarakat untuk berhati-hati terhadap berita palsu dari Kamboja, seperti laporan yang mengklaim bahwa Kamboja telah menembak jatuh jet tempur F-16 Thailand.
Ia juga membantah klaim yang dibuat oleh Casey Barnett, seorang warga asing yang tinggal di Kamboja, yang secara keliru menyatakan di media sosial bahwa operasi militer Thailand bertujuan untuk merebut dan mencaplok wilayah Kamboja.
Surasant dengan tegas menyatakan posisi Thailand selalu jelas: operasi militer dilakukan semata-mata untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara sambil menghormati kedaulatan negara lain, bahkan negara-negara yang menimbulkan ancaman bagi Thailand.
Hingga saat ini, dampak terhadap warga sipil Thailand sangat signifikan, dengan 251.222 orang mengungsi dan mencari perlindungan di 985 tempat penampungan sementara. Satu orang dilaporkan meninggal akibat serangan langsung Kamboja, sementara 22 lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung dari konflik tersebut.
Enam warga sipil terluka akibat serangan Kamboja, dan 20 rumah sakit, bersama dengan 201 pusat kesehatan setempat, telah terdampak.
Sementara itu, Pusat Pers Gabungan tentang Situasi Perbatasan Thailand-Kamboja juga mengklarifikasi laporan mengenai jatuhnya Pesawat Tanpa Awak (UAV) Thailand di dekat Poipet, Kamboja, pada malam 17 Desember 2025.
Pusat tersebut mengkonfirmasi laporan tersebut, menyatakan bahwa UAV DP-20 mengalami kehilangan kendali sekitar pukul 20:00, dengan sinyal terakhir terdeteksi sekitar 10 kilometer di sebelah timur Poipet.
Pesawat nirawak DP-20, yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Pertahanan dari Kantor Sekretaris Tetap Pertahanan, berada dalam fase penelitian dan pengujian dan telah dikerahkan untuk mendukung operasi Angkatan Darat Kerajaan Thailand.
Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand saat ini sedang menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut, yang mungkin disebabkan oleh berbagai faktor. Setelah diverifikasi, temuan tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kinerja dan keandalan pesawat nirawak tersebut.




