Teheran Ejek Jerman yang Baru Nyadar Perang AS-Iran Berdampak Buruk pada Jerman-Eropa

Kanselir Jermna Merz tahun lalu menyebut rezim Israel sedang "melakukan pekerjaan kotor untuk kita" dengan menyerang Iran. 


Teheran, Suarathailand- Melalui Medsos X, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmail Baqaei, mengejek sikap Kanselir Jerman Friedrich Merz—yang sebelumnya mendukung perang melawan Iran, namun kini justru mengeluhkan dampaknya terhadap negaranya sendiri dan  Eropa.

Baqaei mengingatkan kembali pernyataan Merz tahun lalu yang menyebut bahwa rezim Israel sedang "melakukan pekerjaan kotor untuk kita" dengan menyerang Iran. 

Baqaei membandingkan pernyataan tersebut dengan pengakuan terbaru sang Kanselir Jerman, yang menyebut bahwa pembalasan Iran atas agresi Amerika-Israel telah merugikan Eropa lebih dari €100 miliar akibat kenaikan harga energi selama delapan bulan terakhir.

Baqaei juga menyoroti pernyataan terbaru dari Johann Wadephul—yang disebutnya sebagai menteri luar negeri Jerman—yang menuduh Iran memicu ketegangan regional.

"Kini, menteri luar negerinya (Merz) pun tampaknya merasa perlu untuk membenarkan serangan militer terhadap Iran. Ia menunjukkan sikap acuh tak acuh dan kemerosotan moral yang begitu dalam; ia tidak mengakui jatuhnya korban jiwa maupun kejahatan perang yang terjadi, serta tidak memahami kerusakan ekonomi yang ditimbulkan oleh perang ini terhadap negaranya sendiri dan Eropa," ujar diplomat Iran tersebut.

"Ada pepatah Inggris yang berbunyi, 'sekali terbakar, dua kali berhati-hati' (belajar dari pengalaman). Namun, sosok seperti 'Hans Guck-in-die-Luft' (Hans yang selalu menengadah ke langit/tidak memperhatikan sekitar) tampaknya tidak mampu memetik pelajaran," pungkasnya, merujuk pada sebuah puisi naratif Jerman.

Para pejabat Iran telah lama menyoroti standar ganda negara-negara Barat. Pada Juni 2025, rezim Zionis melancarkan serangan tanpa provokasi terhadap berbagai situs nuklir, militer, dan sipil di Iran, yang menewaskan sejumlah komandan, ilmuwan, dan warga sipil. 

Saat itu, Merz secara terbuka menyebut serangan tersebut sebagai "pekerjaan kotor" yang menguntungkan pihak Barat.

Para pejabat Iran secara konsisten menegaskan bahwa akar penyebab ketidakamanan dan ketidakstabilan di kawasan ini terletak pada serangan AS-Israel yang dimulai pada akhir Februari 2026, kegagalan Nota Kesepahaman Islamabad akibat ketidakpatuhan Washington, serta berbagai tindakan ilegal yang terus berlanjut, termasuk blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. (Foto: Kanselir Jerman Mertz)

Share: