AS Tangkap Geng Penyelundup Chip AI Senilai Rp998 Miliar ke China

Jaringan penyelundupan beroperasi dari Houston, Texas, menggunakan skema rumit untuk menghindari hukum yang membatasi ekspor teknologi canggih ke China. 


AS, Suarathailand- Otoritas AS telah membongkar operasi ilegal penyelundupan chip kecerdasan buatan (AI) canggih ke China, menyita prosesor Nvidia berkinerja tinggi senilai US$60 juta (sekitar 5,6 miliar baht). Barang sitaan terutama terdiri dari chip Nvidia H100 dan H200, yang merupakan pelanggaran signifikan terhadap kontrol ekspor.

Insiden minggu ini menggarisbawahi bagaimana chip AI telah berkembang menjadi sumber daya strategis yang penting bagi keamanan nasional, faktor utama yang mendorong pengetatan kontrol ekspor Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut pernyataan dari Departemen Kehakiman AS, jaringan penyelundupan tersebut beroperasi dari Houston, Texas. Kelompok tersebut menggunakan skema rumit untuk menghindari hukum yang membatasi ekspor teknologi canggih ke China. 

Operasi tersebut melibatkan pengiriman chip H100 dan H200 ke sebuah gudang di Amerika Serikat, di mana chip tersebut dikemas ulang dan diberi label palsu sebagai "SANDKYAN". 

Para penyelundup kemudian memalsukan dokumen ekspor untuk menyesatkan jenis produk dan menyembunyikan tujuan akhir yang sebenarnya, sehingga pengiriman dapat melewati pemeriksaan logistik awal dengan mencantumkan tujuan non-Tiongkok.

Meskipun skema tersebut rumit, operasi tersebut terungkap melalui transaksi keuangan yang terkait langsung dengan Tiongkok. Jejak keuangan ini menjadi bukti kunci yang mengarah pada perluasan investigasi. Dokumen pengadilan mengidentifikasi Alan Hao Hsu dan rekan-rekannya di Hao Global LLC sebagai pemimpin yang berupaya mengekspor secara ilegal sejumlah besar chip AI Nvidia.

Roman Rozhavsky, Asisten Direktur Divisi Kontra Intelijen Biro Investigasi Federal (FBI), menyatakan bahwa kasus ini menunjukkan pentingnya kerja sama antar lembaga dalam melindungi teknologi canggih AS.

Upaya penyelundupan ini menyoroti meningkatnya permintaan akan daya komputasi AI di Tiongkok setelah pembatasan akses ke chip canggih dari Nvidia dan produsen lainnya. Laporan menunjukkan Tiongkok telah menggunakan berbagai metode untuk mengurangi dampak sanksi, seperti menyewa daya komputasi AI dari luar negeri atau mendirikan pusat data di negara pihak ketiga seperti Singapura, serta memanfaatkan perusahaan perantara dan negara berkembang sebagai saluran impor. Kasus ini merupakan eskalasi terbaru dalam "perang teknologi AI" yang semakin intensif antara kedua negara adidaya tersebut.

Pemerintahan AS saat ini telah mengisyaratkan niat yang jelas untuk menutup celah dalam ekspor chip AI dan secara agresif menuntut para penyelundup, khususnya mereka yang berurusan dengan teknologi tingkat pusat data seperti H100 dan H200.

Para analis memperkirakan bahwa setelah pengungkapan ini, pengawasan terhadap jalur ekspor chip AI akan menjadi jauh lebih ketat, yang berpotensi berdampak pada rantai pasokan industri AI global dalam jangka panjang. /Justice

Share: