Pembunuhan tersebut merupakan kampanye pembersihan etnis sistematis, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan potensi genosida.
Sudan, Suarathailand- Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menuduh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) Sudan dan milisi sekutunya membantai lebih dari 6.000 warga sipil selama pengepungan tiga hari di kota El Fasher.
Laporan tersebut merinci kekejaman spesifik, termasuk eksekusi massal di sekolah dan universitas, kekerasan seksual sistematis terhadap perempuan dari kelompok etnis Zaghawa, dan serangan mematikan terhadap rumah sakit bersalin.
Sayap hak asasi manusia PBB menyatakan bahwa pembunuhan tersebut merupakan kampanye pembersihan etnis sistematis, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan potensi genosida.
Setelah laporan tersebut, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengkonfirmasi bahwa mereka sedang mengumpulkan bukti untuk menuntut komandan RSF berpangkat tinggi atas dugaan pembantaian tersebut.
Bukti eksekusi massal, kekerasan seksual sistematis, dan serangan terhadap rumah sakit di El Fasher menunjukkan kejahatan terhadap kemanusiaan dan potensi genosida.
Sebuah laporan mengerikan yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa telah merinci "gelombang kekerasan yang lebih brutal daripada yang dapat dibayangkan," yang menuduh bahwa Pasukan Dukungan Cepat Sudan (RSF) dan milisi Janjaweed sekutunya membantai lebih dari 6.000 warga sipil selama pengepungan tiga hari di El Fasher.
Temuan tersebut, yang dipresentasikan oleh sayap hak asasi manusia PBB, menunjukkan bahwa pembunuhan—yang terjadi pada akhir Oktober 2025—merupakan kampanye sistematis pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Volker Türk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, memperingatkan bahwa sifat "gila" dari pelanggaran tersebut dipicu oleh iklim impunitas total.
Adegan 'Kengerian yang Tak Tertandingi'
Dossier setebal 29 halaman, yang disusun melalui citra satelit dan wawancara dengan lebih dari 140 penyintas, melukiskan gambaran mengerikan tentang serangan terhadap kota tersebut, yang berfungsi sebagai benteng terakhir tentara Sudan di Darfur.
Di antara insiden paling mengerikan yang didokumentasikan adalah pembantaian di Universitas El Fasher pada 26 Oktober. Para pejuang RSF dilaporkan melepaskan tembakan dengan senjata berat ke lebih dari 1.000 pengungsi yang mencari perlindungan di asrama.
Saksi mata menggambarkan akibatnya sebagai "menyerupai film horor," dengan sekitar 500 orang tewas dalam serangan awal.
Laporan tersebut selanjutnya menyatakan:
Eksekusi Anak-Anak: Setidaknya 600 warga sipil dieksekusi di sekolah-sekolah, termasuk setidaknya 50 anak-anak.
Kekerasan Seksual sebagai Senjata: Pemerkosaan sistematis dan pemerkosaan berkelompok dilaporkan digunakan terhadap perempuan dari kelompok etnis Zaghawa non-Arab sebagai taktik perang yang disengaja.
Rumah Sakit yang Ditargetkan: Pada 28 Oktober, para pejuang menyerbu Rumah Sakit Bersalin Saudi, mengakibatkan kematian setidaknya 460 pasien dan staf.
Krisis Global yang Diabaikan
Perang saudara, yang dimulai pada April 2023, kini telah berubah menjadi bencana kemanusiaan paling parah di dunia. Di luar jumlah korban jiwa langsung, PBB menyoroti tren yang mengkhawatirkan, yaitu rumah sakit anak-anak yang dialihfungsikan sebagai pusat penahanan untuk tebusan dan penyiksaan.
Sebagian besar wilayah Sudan kini dilanda kelaparan, dan negara tersebut saat ini menampung populasi pengungsi terbesar di planet ini.
Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengkonfirmasi bahwa mereka sedang mengumpulkan bukti untuk menuntut komandan RSF berpangkat tinggi. Laporan ini menyusul penetapan sebelumnya oleh Amerika Serikat bahwa tindakan kelompok paramiliter tersebut sama dengan genosida.
Bagi ribuan keluarga yang masih mencari kerabat yang hilang, temuan PBB mengkonfirmasi ketakutan terburuk mereka: bahwa El Fasher telah menjadi kuburan massal bagi mereka yang gagal dilindungi oleh dunia.




