Keamanan ditingkatkan menyusul tragedi penembakan di sekolah Nonthaburi.
Bangkok, Suarathailand- Sekolah-sekolah di Thailand mengadakan latihan menghadapi penembak aktif pada hari Rabu, seiring langkah pihak berwenang untuk memperketat keamanan dua minggu setelah seorang remaja berusia 14 tahun melepaskan tembakan di sebuah sekolah di Nonthaburi.
Aksi penembakan remaja tersebut menewaskan tujuh orang—termasuk dirinya sendiri—setelah sebelumnya membunuh kakek-neneknya.
Di Sekolah Surasak Montri, Bangkok, para siswa mengikuti latihan dengan metode "lari, sembunyi, lawan" (*run, hide, fight*). Seorang petugas polisi berpakaian hitam berperan sebagai penyerang simulasi, bersenjatakan pistol dan senapan serbu yang menembakkan peluru hampa.
Para siswa berlari menjauhi penembak dan bersembunyi di bawah meja serta di balik pintu yang terkunci, sementara siswa lainnya menggunakan perabotan untuk menghalangi akses masuk. Dalam salah satu skenario, para siswa melumpuhkan dan menahan penyerang setelah ia memasuki ruang kelas.
Latihan ini dilaksanakan menyusul instruksi yang ditandatangani pada 10 Agustus oleh Menteri Pendidikan Prasert Jantararuangtong, yang mewajibkan sekolah untuk menyusun rencana keamanan dan melatih prosedur tanggap darurat.
"Setiap sekolah merespons hal ini karena ini adalah ancaman era baru yang bisa terjadi di mana saja," ujar Visitsak Vipattanamongkol, kepala unit Penjinak Bahan Peledak (EOD) di Divisi Patroli dan Operasi Khusus kepolisian kepada Bangkok Post.
"Setiap sekolah kini bersiaga, menyesuaikan rencana mereka, dan bersiap agar siswa dapat merespons berbagai bentuk insiden maupun ancaman," katanya.
Sekolah tersebut juga telah meningkatkan pemeriksaan keamanan harian menggunakan detektor logam dan pemeriksaan tas. Para guru mendemonstrasikan penggunaan detektor genggam serta memamerkan benda-benda tajam yang disita dari siswa.
Kepala Sekolah Surasak Montri, Onitcha Kochana, mengatakan bahwa pelatihan ini dapat membantu siswa merespons jika terjadi keadaan darurat yang sesungguhnya.
"Saya terkesan dan sangat menyukai pelatihan ini karena memberikan pengetahuan serta kesadaran kepada para siswa," ujarnya.
"Mereka dapat menerapkan apa yang dipelajari hari ini untuk menangani situasi, mengubah sesuatu yang serius menjadi situasi yang dampaknya lebih ringan." (Foto: Simulasi respons aksi penembakan di sekolah)




