Lonjakan biaya energi, yang dipicu oleh konflik AS-Israel dengan Iran, telah melemahkan prospek pertumbuhan tahun ini dengan membebani rumah tangga dan perusahaan, kata OECD.
London, Suarathailand- Media The Independent melaporkan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyatakan perekonomian Inggris terhambat oleh inflasi energi yang kembali meningkat akibat konsekuensi langsung dari konflik Timur Tengah.
OECD Dalam laporan baru tentang perekonomian negara memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Inggris akan melambat menjadi 0,9 persen pada tahun 2026, turun dari 1,4 persen tahun lalu.
Lonjakan biaya energi, yang dipicu oleh konflik AS-Israel dengan Iran, telah melemahkan prospek pertumbuhan tahun ini dengan membebani rumah tangga dan perusahaan, kata OECD.
OECD juga menyebut konflik Timteng rentan terhadap harga bahan bakar fosil yang fluktuatif, menggarisbawahi perlunya dekarbonisasi pembangkit listrik dan mempercepat elektrifikasi..
OECD juga melaporkan Temukn bahwa kesenjangan regional menghambat standar hidup dan kinerja ekonomi secara keseluruhan, terutama terlihat pada tingginya angka pengangguran dan terbatasnya peluang kerja bagi kaum muda.
OECD menyatakan bahwa ambisi pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi "secara tepat menargetkan kelemahan lama dalam produktivitas dan kesenjangan regional yang terus-menerus".
"Namun, ketegangan geopolitik yang kembali muncul dan harga energi yang lebih tinggi telah memperburuk tantangan bagi aktivitas ekonomi, inflasi, dan keuangan publik," demikian bunyi laporan tersebut.
Organisasi tersebut mengatakan penting untuk menjaga momentum reformasi kebijakan agar agenda pertumbuhan ekonomi berhasil.
Hal ini terjadi ketika Andy Burnham, yang akan menggantikan Keir Starmer sebagai perdana menteri minggu depan, berencana untuk memperkenalkan "No 10 Utara" yang berbasis di Manchester. Mantan walikota Greater Manchester itu mengatakan dia ingin mengubah Inggris dengan mentransfer kekuasaan dari Whitehall dan memberi daerah kemampuan untuk mengendalikan utilitas penting, transportasi, dan perumahan.
Menteri Keuangan Rachel Reeves mengatakan, "OECD setuju bahwa kita telah memulihkan stabilitas, menempatkan ekonomi pada posisi yang jauh lebih kuat daripada dua tahun lalu."
“Kami diprediksi akan menjadi ekonomi G7 dengan pertumbuhan tercepat di Eropa tahun ini dan tahun depan, dan, untuk pertama kalinya sejak 2004, kami diprediksi akan meminjam lebih sedikit tahun ini daripada rata-rata G7,” tambah Reeves.




