Multikulturalisme di Thailand Selatan: Keindahan Daerah dengan Beragam "Warna"

Multikulturalisme di wilayah perbatasan selatan bukan sekadar pengakuan bahwa terdapat berbagai kelompok masyarakat yang hidup berdampingan, melainkan tentang belajar untuk menghargai setiap kelompok tersebut—tanpa harus membuat siapa pun kehilangan identitasnya.


Thailand Selatan, Suarathailand- Menelusuri sejarah lokal melalui akar leluhur; agama dan budaya berbagi akar yang sama di wilayah perbatasan selatan. Perbedaan yang berpadu menjadi sebuah keindahan.

Jika kita mengibaratkan masyarakat di wilayah perbatasan Thailand selatan sebagai sebuah vas, keindahan vas tersebut mungkin bukan berasal dari satu warna saja, melainkan dari perpaduan berbagai warna yang menyatu dengan sempurna. 

Begitu pula dengan masyarakat di tanah ini. Meskipun terdapat perbedaan dalam agama, bahasa, keyakinan, dan cara hidup, kelompok-kelompok tersebut mungkin memiliki akar sejarah dan ikatan budaya yang telah terjalin sejak lama.

Hal yang menarik adalah mempelajari sejarah lokal dari sudut pandang yang jarang dibahas secara luas, yakni mengenai keberagaman agama dan budaya dalam kelompok etnis yang sama, serta hubungan antarmanusia yang memiliki leluhur yang sama—meskipun di kemudian hari mereka menganut keyakinan dan cara hidup yang berbeda.

Melihat sejarah dengan cara ini bukan berarti mencari tahu siapa pemilik budaya tersebut atau siapa yang memiliki legitimasi lebih besar dibandingkan pihak lain. 

Sebaliknya, pendekatan ini bertujuan memahami bagaimana masyarakat di wilayah yang sama memiliki keterkaitan secara historis, serta apa yang dapat dijadikan jembatan untuk membangun saling pengertian.


1. Menelusuri Kembali Sejarah: Ketika Satu Wilayah Menaungi Beragam Keyakinan

Wilayah perbatasan selatan saat ini memiliki keterkaitan dengan sejarah perdagangan maritim dan interaksi yang telah berlangsung lama antarberbagai peradaban.

Hal ini terutama terlihat di sekitar Semenanjung Melayu, sebuah kawasan yang menghubungkan masyarakat dari India, Asia Tenggara, dan dunia Barat melalui jalur perdagangan laut.

Pada masa Kerajaan Langkasuka, wilayah ini merupakan bagian dari jejaring budaya yang majemuk. Interaksi dengan para pedagang dan pendatang dari mancanegara membawa serta berbagai keyakinan, agama, bahasa, dan beragam bentuk pengetahuan.

Terdapat berbagai gagasan dan asumsi sejarah mengenai keyakinan pada masa pra-Islam—baik berupa kepercayaan lokal, pengaruh dari India, maupun tradisi Hindu-Brahmana dan Buddha, khususnya Buddha Mahayana—yang memiliki keterkaitan dengan jejaring budaya berbagai kerajaan di Asia Tenggara.

Mengenai klaim tentang pengaruh Zoroastrianisme (pemujaan api) di Langkasuka, diperlukan lebih banyak bukti arkeologis serta dokumen sejarah untuk dapat menjelaskannya secara komprehensif.

Selanjutnya, ketika Islam menyebar ke Semenanjung Melayu melalui jejaring perdagangan, penyebaran agama, dan hubungan antar komunitas, Islam pun menjadi landasan utama bagi masyarakat Melayu.

Oleh karena itu, hal yang menarik bukanlah sekadar perubahan agama, melainkan bagaimana masyarakat di wilayah yang sama mampu beradaptasi. mengadopsi keyakinan baru dan menciptakan gaya budaya mereka sendiri. Masih terdapat jejak-jejak cara hidup tradisional yang terus bertahan hingga saat ini.


2. Etnisitas Bukanlah Agama, dan Agama Bukanlah Penentu Etnisitas

Poin penting yang perlu dipahami adalah: Istilah "etnis Melayu" tidak sama dengan "Islam". Sebaliknya, menjadi seorang Muslim tidak berarti seseorang harus berasal dari etnis Melayu.

Etnisitas berkaitan dengan akar—ikatan leluhur, bahasa, sejarah, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara itu, agama merupakan masalah keyakinan dan iman individu, yang dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman dan konteks sosial.

Jika melihat Indonesia, yang memiliki populasi multietnis dengan komunitas Melayu di berbagai wilayah, tampak jelas bahwa mereka yang terhubung dengan budaya Melayu tidak semuanya memiliki corak keagamaan yang sama. Sebagai contoh, terdapat kelompok yang dapat disebut sebagai orang Melayu beragama Buddha, Kristen, atau Hindu.

Penting pula untuk mempertimbangkan identitas dan cara pandang setiap komunitas terhadap diri mereka sendiri. 

Di tiga provinsi perbatasan selatan, populasi etnis Melayu sebagian besar beragama Muslim; namun, terdapat pula warga Thailand penganut Buddha serta penganut keyakinan lain yang telah hidup berdampingan sejak lama.

Perbedaan-perbedaan semacam itu tidak membuat hubungan sejarah antarmanusia menjadi kehilangan makna. Sebaliknya, hal tersebut mencerminkan bahwa masyarakat ini jauh lebih beragam daripada sekadar dilihat melalui kerangka agama saja.


3. Akar Budaya sebagai Bukti Keterhubungan Antarmasyarakat di Masa Lalu

Poin menarik lainnya adalah adanya akar budaya bersama (*shared cultural roots*). Hal ini mencerminkan keterhubungan antarmanusia yang berbagi gaya hidup dan kearifan tertentu, terlepas dari perbedaan agama maupun ritual yang ada saat ini.

Contohnya dapat ditemukan dalam masyarakat di wilayah selatan, seperti tradisi pernikahan, tradisi syukuran rumah baru, penyajian seserahan (*Khan Mak*), kuliner lokal, penggunaan kain sarung, pemakaian penutup kepala atau kerudung, serta kearifan dalam pengobatan tradisional dan kepercayaan yang berkaitan dengan alam.

Selain itu, terdapat pula seni pertunjukan dan kearifan lokal—seperti *Mayong*, *Manorah*, dan wayang kulit—serta gaya pengerjaan kerajinan, dekorasi rumah, dan elemen arsitektur pada tempat-tempat ibadah. 

Semua ini merupakan warisan budaya yang mencerminkan hubungan antara berbagai komunitas di Semenanjung Melayu dan wilayah selatan Thailand.

Namun, keberadaan budaya-budaya ini bukan berarti semua komunitas memiliki asal-usul yang sama atau bahwa setiap tradisi memiliki makna yang persis serupa. Sebaliknya, hal ini menunjukkan adanya proses pertukaran, pembelajaran, dan adaptasi budaya yang telah berlangsung sepanjang sejarah.

Oleh karena itu, hal-hal tersebut merupakan bukti penting yang patut dipelajari dan dilestarikan—bukan untuk memecah belah masyarakat, melainkan untuk memahami hubungan antar komunitas serta menghargai kearifan yang diwariskan oleh para leluhur kita.

4. Akar Sejarah Tidak Boleh Dijadikan Alat untuk Memecah Belah

Pembahasan mengenai asal-usul dan etnisitas juga memunculkan pertanyaan penting: bagaimana seharusnya kelompok masyarakat yang memiliki akar sejarah yang sama memposisikan diri dalam kaitannya dengan wilayah dan masyarakat luas?

Dalam perspektif sejarah lokal, seluruh kelompok masyarakat yang memiliki keterikatan dengan tanah ini—terlepas dari kelompok leluhur mana mereka berasal, agama apa yang dianut, atau bahasa apa yang digunakan—semuanya bernilai dan turut berkontribusi dalam pembentukan masyarakat saat ini.

Dengan demikian, latar belakang etnis tidak boleh dijadikan dalih untuk memonopoli hak atas wilayah atau menciptakan anggapan superioritas antar kelompok masyarakat, karena hak dan martabat setiap individu harus dilindungi secara setara di mata hukum.

Memiliki leluhur yang sama seharusnya menjadi titik awal untuk membangun pemahaman, bukan justru menjadi landasan untuk menentukan siapa yang lebih "tradisional" dibandingkan yang lain, atau siapa yang lebih layak diterima dibandingkan kelompok lainnya.

Oleh karena itu, sejarah yang konstruktif adalah sejarah yang memberikan ruang bagi semua kelompok untuk turut menceritakan kisah mereka sendiri, tanpa harus menafikan ingatan atau nilai-nilai yang diyakini oleh kelompok masyarakat lainnya.


5. Multikulturalisme adalah Keindahan yang Harus Dijaga Bersama

Jika kita memandang masyarakat di wilayah perbatasan selatan melalui kerangka multikulturalisme, kita akan menemukan perbedaan dalam hal agama, bahasa, dan tradisi. 

Hal ini tidak serta-merta menjadi pemicu konflik, melainkan dapat menjadi modal sosial yang membantu membangun pemahaman serta hubungan yang baik antarwarga.

Masyarakat Muslim Melayu, Buddha Thai, dan kelompok dengan identitas budaya lainnya—semuanya berperan dalam menorehkan sejarah dan membangun masyarakat di wilayah ini. 

Saling menghormati keyakinan satu sama lain, menerima perbedaan, serta memberikan kesempatan bagi setiap komunitas untuk melestarikan identitasnya sendiri merupakan inti dari kehidupan berdampingan secara damai.

Oleh karena itu, studi sejarah tidak boleh dilakukan secara selektif dengan hanya mengangkat peristiwa-peristiwa yang memicu perpecahan. 

Sebaliknya, perhatian perlu diberikan pada kisah-kisah pertukaran budaya, hubungan antarmanusia, dan warisan bersama yang mampu menghubungkan orang-orang dari latar belakang agama berbeda, sehingga mereka dapat melihat jalinan persahabatan di tengah masyarakat yang sama.

Sebuah Vas (Bunga) yang Sama Tidak Harus Memiliki Warna yang Seragam

Keindahan vas tidak terletak pada keseragaman warnanya, melainkan pada ruang yang diberikan agar setiap warna dapat hadir dan berpadu secara harmonis. Hal serupa berlaku bagi masyarakat di wilayah perbatasan selatan; tidak perlu ada upaya untuk menyeragamkan keyakinan, agama, bahasa, ataupun budaya semua orang.

Yang perlu dibangun bersama adalah pemahaman mengenai akar sejarah, penghormatan terhadap hak dan martabat satu sama lain, serta pengakuan bahwa perbedaan merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas sosial.

Mungkin penemuan paling berharga dari sejarah bukanlah mencari tahu leluhur siapa yang lebih hebat daripada yang lain, melainkan menyadari bahwa saat ini, manusia memang memiliki perbedaan satu sama lain. 

Pernahkah Anda menjalin hubungan atau berinteraksi dengan orang lain, serta memikirkan bagaimana cara membangun kehidupan bersama?

Sebab, pada akhirnya, etnisitas mungkin menghubungkan kita dengan akar asal-usul, agama mungkin membentuk kita melalui keyakinan, dan budaya mungkin mencerminkan jati diri kita. 

Namun, rasa hormat dan saling pengertianlah yang memungkinkan kita untuk hidup bersama secara berkelanjutan.

Multikulturalisme di wilayah perbatasan selatan bukan sekadar pengakuan bahwa terdapat berbagai kelompok masyarakat yang hidup berdampingan, melainkan tentang belajar untuk menghargai setiap kelompok tersebut—tanpa harus membuat siapa pun kehilangan identitasnya.

Berbeda namun tidak memecah belah; beragam namun memiliki satu hati yang sama. Inilah keindahan masyarakat multikultural yang patut kita jaga bersama.

Share: